Ketika Surga dan Neraka Berdebat

0
ilustrasi

Orang-orang beriman tidak akan pernah galau dalam menjalani hidup yang ditakdirkan kepadanya. Ia tak pernah risau terkait jumlah rezeki ataupun kepemilikan sejumlah harta. Ia amat percaya bahwa Allah Ta’ala mustahil menzhalimi hamba-hmaba-Nya. Karenanya, yang menjadi fokusnya adalah bagaimana agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan memanfaatkan setiap karunia yang diberikan-Nya.

Maka ketika sedikit jumlah rezeki yang diberikan, ia akan senantiasa bersabar. Sebab sabar adalah jalan terbaik yang kelak membuka pintu-pintu kebaikan lainnya. Dengan sabar, hal pertama yang dirasa adalah perasaan cukup. Dengan merasa cukup, maka ia akan bahagia sebab telah berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Dengan sabar ini pula, hati akan merasa tenang. Dan sabar ini merupakan satu di antara banyaknya keajaiban orang yang beriman.

Kemudian saat Allah Ta’ala kurniakan harta yang banyak kepadanya, yang pertama kali dilakukan adalah beristighfar, meminta ampun. Ia benar-benar khawatir jika dalam banyaknya rezeki terdapat fitnah harta yang besar pula. Selepas itu, ia tunaikan zakat untuk membersihkan harta dan menyampaikannya kepada yang berhak.

Selanjutnya adalah mereka bersyukur, berterima kasih atas karunia yang tidak diberikan-Nya kepada semua hamba. Ia bersyukur dengan harapan, semoga Allah Ta’ala berkahi harta itu. Karena syukur itu pula, harta yang banyak akan kian bertambah; baik jumlah maupun berkahnya. Dan syukur ini, adalah keajaiban lain yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman.

“Berdebatlah antara surga dan neraka,” sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari. Apakah yang menjadi perdebatan surga dan neraka? Rupanya mereka membahas siapa saja yang berhak untuk masuk ke dalam masing-masing tempat itu.

Kata neraka, “Aku dieruntukkan bagi orang-orang yang lalim.” Kemudian surga menyahuti, “Tidak ada yang masuk kepadaku, kecuali orang yang lemah, rendah, dan budak sahaya.” Kemudian Allah Ta’ala berfirman kepada surga, “Sesungguhnya engkau adalah Rahmat-Ku. Aku merahmati denganmu siapa saja yang Kukehendaki.”

Setelah itu, Allah Ta’ala pun berfirman kepada neraka, “Sesungguhnya engkau adalah siksa-Ku. Aku menyiksa dengamu siapa pun yang Kukehendaki.” “Dan bagi masing-masing kalian,” tutup firman-Nya, “akan Aku penuhi isinya.”

Maka orang-orang beriman tidak pernah memandang rendah kekurangan harta. Sebab petaka sejati akan diperoleh bagi mereka yang jauh dengan Allah Ta’ala, meskipun hartanya berlimpah. [Pirman]

Berita sebelumyaOrang yang Haram Masuk Surga
Berita berikutnyaMengapa Rasulullah tidak Membunuh Orang Munafik?