Perbuatan Halal yang Sebabkan Gejolak Syahwat

0

Di antara gaya hidup yang berlaku di akhir zaman ini adalah berlebih-lebihan dalam hal makanan. Mulai dari memilah-milih makanan, sibuk mencari tempat makan hingga menyita sebagian besar waktu yang diberikan Allah Ta’ala kepadanya, tidak mau makan kecuali menu dengan harga selangit dan rasa yang wah atas nama gaya dan gengsi, sampai pada mengonsumsi makanan tanpa memperhatikan halal dan haramnya.

Sebagai bentuk lengkap dan menyeluruhnya ajaran Islam, soal ini bukanlah hal yang sederhana. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam menempatkan bahasan tentang hal ini dalam porsi pertengahan dan amat akomodatif dengan fitrah penciptaan manusia. Pasalnya, jika hal ini tidak diatur, meski merupakan sebuah kebolehan, ianya menjadi sebab utama bergejolaknya syahwat seseorang.

Makanan dikategorikan sebagai sebuah hal yang mubah. Dibolehkan selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. Tujuan utamanya, agar seseorang mendapatkan kekuatan yang cukup untuk menjalankan tugas sebagai hamba dan khalifah Allah Ta’ala di muka bumi ini. Asal bisa menegakkan tulang belakang, soal makanan ini sudah kelar.

Di sini pula terletak hikmah mengapa Allah Ta’ala mengharamkan makanan-makanan tertentu. Sebab makanan dan minuman yang diharamkan, jika nekat dikonsumsi, bisa menjadi sebab kelemahan dalam ibadah, sakit fisik dan ruhani. Makanan yang haram tidaklah menghasilkan sesuatu, kecuali keburukan yang makin bertambah seiring berjalannya waktu dan intensitas konsumsi.

Terkait hal ini, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah memberi nasihat, “Makan secara berlebihan hanya menjerumuskan pelakunya ke dalam sifat tamak, suka mengumbar hasrat dan syahwat sehingga merusak lahir dan batin pelakunya.”

Jika terhadap makanan yang dibolehkan saja kita tidak dibolehkan berlebih-lebihan, maka untuk makanan yang haram harus benar-benar dijauhi sejauh-jauhnya.

Sebaliknya, tidak dibolehkan meninggalkan makanan hingga menyebabkan sakit bahkan kematian. Tidak pula dibenarkan malas makan hingga malas menjalankan ibadah dan berbagai proyek amal shalih yang harus disegerakan, diperbanyak, dan diperbaiki terus menerus.

Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, mari simak taujih Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah, “Terlalu banyak makan akan mengakibatkan cepat mengantuk, perut yang kenyang membuat hati menjadi buta dan tubuh menjadi lemah.”

Sebagai solusi, penulis ‘Uddatush Shabirin dan banyak kitab lainnya ini mengatakan, “Yang terbaik adalah sedang-sedang saja.”

Maka ingatlah selalu nasihat mulia dari manusia paling agung di muka bumi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, “Makanlah tatkala lapar dan berhentilah sebelum kenyang.”

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaDibenci Orang Shalih, Tapi Sangat Digemari Generasi Akhir Zaman
Berita berikutnyaMengapa Tak Boleh Menginginkan Kematian saat Mendapat Musibah?