Penakluk al-Quds yang Wafat tanpa Meninggalkan Kuda, Tanah maupun Rumah Pribadi

0
5645
ilustrasi @hussamabdelkader
ilustrasi @hussamabdelkader
ilustrasi @hussamabdelkader

Nama lengkapnya adalah al-Malik an-Nasir Shalahuddin Yusuf bin Ayyub bin Syadzi bin Marwan. Lahir di benteng Tirkit. Pada hari lahirnya, ia dan keluarganya harus pindah ke Mosul dan bekerja pada pemerintahan Imadudiin Zanki.

Shalahuddin memulai perjalanan hidupnya dengan menjadi pembantu pamannya yang bernama Syirkuh. Setelahnya, ia menjadi sekretaris Nuruddin Mahmud bin Zanki. Antara tahun 1163 M dan 1169 M, Shalahuddin menyertai ekspedisi militer ke Mesir sebanyak tiga kali bersama pamannya.

Akhirnya, pasukan tersebut berhasil menguasai lokasi itu. Ketika akhirnya Syirkuh wafat, tak lama kemudian Shalahuddin dipercaya untuk menggantikan kedudukannya. Dua tahun selepas memimpin, Shalahuddin menghapuskan Dinasti Fatimiyah.

Pada tahun 1174 Masehi, Nuruddin Zanki wafat. Ketika itu Shalahuddin merupakan emir yang paling kuat di wilayah Mesir, Suriah dan Mesopotamia. Secara bertahap, ia menyatukan wilayah-wilayah di sekitarnya dan kemudian mendirikan Dinasti Ayyubiyah.

Tiga belas tahun setelah wafatnya Zanki, tepatnya pada tahun 1187 Masehi, Shalahuddin dan pasukannya berhasil mengalahkan orang-orang Frank dalam Perang Hattin, merebut kembali al-Quds dan menguasai sebagian besar wilayah kekuasaan Frank.

Peristiwa inilah yang memicu terjadinya Perang Salib III. Dalam peperangan besar itu, ada tiga raja Eropa yang terlibat; Frederick Barbarossa (Jerman), Philip Augutus (Perancis) dan Richard the Lionheart (Inggris). Pada perang ini, orang-orang Frank berhasil merebut kembali wilayah pantai antara Acre dan Jaffa.

Meskipun, mereka tak berhasil merebut kembali wilayah al-Quds dan sebagian besar wilayah lainnya. Perang ini berakhir dengan perdamaian yang terjadi pada tahun 1192 Masehi. Setahun setelah itu, Jenderal Shalahuddin yang gagah berani menghembuskan nafas terakhirnya.

Beliau wafat pada hari Rabu, 27 Safar 589 Hijriyah bertepatan dengan 3 Maret 1193 Masehi. Didahului oleh demam yang semakin parah, beliau menghadap kepada Allah Swt tak lama setelah waktu Subuh hari itu.

Meski namanya harum nan dikenang sejarah dengan tinta emasnya, Shalahuddin wafat tanpa meninggalkan harta pribadi, kecuali satu keping dinar dan tiga puluh enam atau empat puluh dirham. Beliau tak meinggalkan kuda, tanah, maupun rumah pribadi.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menerima semua amal baik Shalahuddin dan memberikan kekuatan kepada kita untuk meneladaninya. [Pirman]