Dibenci Mayoritas Manusia, Padahal 7 Hal Ini Merupakan Pelebur Dosa

0
1959

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim Rahimahumallahu Ta’ala, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan tujuh kondisi yang bisa menjadi penghapus dosa bagi seorang mukmin.

Sayangnya, tujuh kondisi yang disebutkan dalam hadits yang dikompilasikan oleh Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin ini justru dibenci oleh mayoritas umat manusia.

مايصيب المسلم من نصب ولا وصب ولا هم ولا حزن و لا اذى ولا غم، حتى الشوكة يشا كها الا كفر الله بها من خطا ياه

“Tiada seorang Muslim yang mengalami kepayahan, rasa sakit, kegelisahan, kesedihan, penindasan, atau goncangan jiwa, bahkan meski hanya duri yang membuatnya kesakitan, melainkan dengan semua itu Allah Ta’ala melebur dosa-dosanya.”

Hadits ini merupakan salah satu bukti Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah Ta’ala. Tidaklah Dia menaqdirkan sesuatu, melainkan ada hikmah agung di baliknya.

Tiada satu pun orang yang menyukai kepayahan. Tak ada yang senang ketika merasakan sakit di salah satu anggota tubuh atau sekujurnya. Tetapi di baliknya ada pahala agung yang bisa menghapuskan dosa-dosanya.

Begitu pula dengan semua jenis kesedihan, penindasan, jiwa yang bergoncang karena masalah yang berat atau sekadar tertusuk duri dan rasa gelisah. Kesemua itu merupakan kondisi-kondisi yang dibenci oleh mayoritas manusia.

Meski ketujuh hal ini tiada yang menyukai, semuanya bisa menjadi penebus dosa ketika dijalani dengan kesabaran yang bagus. Sabar yang tulus dengan mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala atas ujian-ujian tersebut.

“Penyakit-penyakit dan hal-hal menyakitkan lainnya yang menimpa seorang mukmin, lalu ia bersabar atas semua itu, niscaya menjadi sarana untuk membersihkan diri dari dosa-dosa.” terang Syeikh Musthafa Dib Al-Bugha dkk saat menerangkan hadits ini.

Sebaliknya, ketika semua ujian kesakitan dijalani dengan keluhan yang berlebihan, maka tak ada pahala baginya. Bahkan keluhan yang dilontarkan ketika seseorang mengalami kesakitan merupakan dua musibah sekaligus.

“Satu musibah menimpah dirinya (sakit) dan satu (musibah) lagi berupa kehilangan pahala (mengeluh), bahkan bisa jadi orang yang mengeluh akan mendapatkan dosa.” pungkas Syeikh Al-Bugha menerangkan.

Sabar ketika diuji memang tak semudah mengatakan atau menuliskannya ketika sehat. Akan tetapi, tak ada jalan selain sabar, agar dosa-dosa berguguran karena sakit yang diderita.

Agar tak mengeluh yang berakibat kehilangan pahala dan menambah dosa, lebih baik hari-hari sakit dijalani dengan dzikir atau aktivitas kebaikan lainnya. Insya Allah, sakitnya tak terasa. [Kisahikmah]