Syaikh Abdul Qadir al-Jilany: Inilah Orang yang Nyata-nyata Terhalang, Mati, dan Terlempar

0
ilustrasi @redaksiindonesia.com

Mari menepi sejenak untuk menyimak taujih Rabbani dari salah satu imamnya kaum sufi, Syaikh Abdul Qadir al-Jilany. Taujih ini disampaikan pada hari Jum’at pagi tanggal 13 Rajab 546 Hijriyah di madrasahnya.

“Setiap orang yang Islamnya bagus dan nyata, senantiasa mengerjakan hal-hal yang berguna dan meninggalkan hal-hal yang tidak perlu.”

Beliau mengatakan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Diantara tanda-tanda kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak perlu.”

Perhatikanlah, wahai para penempuh jalan menuju Allah Ta’ala. Bagaimana aktivitasmu sehari-hari? Apakah kesibukanmu dalam rangka berbibadah kepada Allah Ta’ala atau terjerumus dalam sia-sia yang melalaikan dari amalan ketaatan?

“Sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna adalah aktivitas mereka yang terjerambab dalam kebatilan, yang terhalang dari ridha Tuhannya.”

Hal-hal yang tidak berguna amat banyak ragamnya. Tapi sebagian kita bersikap acuh hingga tidak menghiraukannya sedikit pun. Banyak di antara hal yang tidak berguna itu yang bersifat mubah, dibolehkan. Namun lantaran dilakukan secara berlebihan menjadi tidak baik karena waktu yang diberikan untuk seorang hamba tidak mengasilkan kebaikan atau pahala.

“Siapa yang tidak mengamalkan apa yang diperintahkan-Nya lalu sibuk dengan hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, berarti ia nyata-nyata terhalang, nyata-nyata mati, dan terlempar.”

Sebagai kiat efektif agar tidak terjerumus dalam perbuatan sia-sia adalah menyibukkan diri dengan amalan-amalan shalih yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Sibuk dalam melakukan ibadah wajib dan sunnah di sepanjang waktu hingga tiada sedikit pun ruang bagi setan untuk menggoda.

Lakukan ketaatan di jalan-Nya dengan tulus, berharap ridha dari Allah Ta’ala. Itulah kekayaan dan kemenangan sejati yang menyelamatkan seorang hamba dari sengsara dan siksa di dunia hingga akhirat.

Sang imam para sufi ini juga memberi kiat, “Sucikan jasadmu dengan sunnah, lalu sucikan hatimu dengan al-Qur’an al-Karim. Jagalah hatimu hingga jasadmu terjaga.”

Sunnah Nabi bukan sekadar ritual. Ianya juga berisi banyak amalan yang besar dan agung manfaatnya bagi kemaslahatan hidup umat manusia; agar mereka masuk dalam Islam yang mulia dan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Rujukan: Majalah Cahaya Sufi edisi 95 tahun 2016 halaman 8-9

Berita sebelumya3 Hal yang Paling Dicintai Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq
Berita berikutnya3 Hal yang Paling Disukai Sayyidina ‘Umar bin Khaththab di Dunia