Nasihat Sufi yang Menggetarkan Jiwa

0
sumber gambar: sufimuda.net

Nasihat hendaknya diterima dengan hati yang lapang. Bersikaplah santun di hadapan para pemberi nasihat, agar hikmahnya merasuk ke dalam kalbu, lalu diserap dengan sangat baik dan menjadi daya ubah bagi masing-masing kita.

Adalah Imam al-Harits al-Muhassibi. Seorang ulama sufi agung yang merupakan guru dari Imam Junayd al-Baghdadi. Oleh Nahdhatul Ulama’, ajaran tasawuf Imam al-Junayd al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali inilah yang dirujuk secara resmi dan dijadikan pedoman dalam bertasawuf.

Terkait namanya, al-Muhassibi adalah julukan baik bagi Imam al-Harits lantaran kebiasaannya dalam melakukan muhasabah diri, melakukan introspeksi secara mendalam terkait kebaikan dan keburukan yang dilakukan. Nasihat-nasihat bernas sang imam ini, kemudian dirangkum dalam buku monumental yang diberi judul Risalah al-Mustarsyidin, tuntunan bagi para pencari petunjuk.

Di dalam kitab tersebut, nasihat-nasihat agung sang imam ditulis dengan sangat baik. Banyak sekali nasihat tulus yang berhasil membuat jiwa terguncang, mata menangis haru, dan ijiwa bergolak semangat setelah membacanya. Banyak petunjuk yang sejatinya sangat dekat, bahkan berada di dalam diri, namun tidak disadari karena karat dosa dan hijab kesalahan yang semakin tebal seiring berjalannya waktu.

“Jangan menganggap remeh setiap dosa. Jangan pernah membocorkan sebuah rahasia. Jangan pernah menyingkap aib. Jangan pernah merencanakan berbuat dosa. Jangan terus-menerus melakukan dosa kecil.”

Cobalah baca nasihat ini dengan menyebut nama Allah Ta’ala. Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim. Baca dengan teliti, lalu pantulkan ke dalam hati kita. Atas lima kalimat ‘jangan’ tersebut, berapa yang sudah kita langgar? Atas lima larangan yang dasarnya al-Qur’an dan hadits ini, berapa kali sudah kita remehkan bahkan ada di antara kita yang berlangganan melanggarnya?

Betapa banyaknya dosa yang kita kerjakan, tapi tindakan meremehkan dosa jauh lebih banyak, bahkan tidak akan pernah bisa kita hitung. Dan, meremehkan dosa itu jauh lebih berdosa dari perbuatan dosanya sendiri.

Berapa banyak rahasia dan aib orang lain yang diketahui, lantas kita dengan amat mudah mengumbarnya kepada siapa yang kita kenal dengan bumbu ‘jangan kisahkan kepada orang lain’, padahal kita sudah menyampaikan kalimat itu kepada banyak orang.

Belum lagi dosa-dosa yang selalu kita anggap kecil hingga tidak disadari. Padahal, dosa kecil yang terus menerus dikerjakan sudah pasti berubah menjadi dosa besar, bahkan sangat besar.

Wallahu a’lam. [pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaTangis Pilu Sang Hakim Menjelang Ajalnya
Berita berikutnyaTragedi Cinta Anak Raja