Monster Dajjal

0
1912

Seusainya shalat berjamaah Maghrib di masjid, malaikat-malaikat kecil itu berdatangan ke rumah kontrakan kami. Berkumpul dengan hiasan senyum sumringah, gerakan lincah, tawa renyah, dan banyak tingkah khas; yang kadang mengundang senyum juga sedikit menguras kesabaran.

Tapi demikianlah mereka adanya. Khas. Tulus. Polos. Tanpa dibuat-buat. Mereka tak banyak berpikir sebagaimana kebiasaan orang dewasa layaknya kita, yang justru kebanyakan mikir hingga berpura-pura.

Mereka juga tak pernah belajar berbohong. Senantiasa berkata dan berperilaku sebagaimana adanya. Tidak ada manipulasi. Bertanya sekenanya. Dan seringkali membuat kita tercengang sejenak, lalu bertakbir kagum, berdecak, lantas mengelus manja kepalanya.

Anak-anak ini sudah beberapa bulan terakhir rutin mendatangi rumah kontrakan. Mereka menyebutnya ngaji. Tapi saya lebih merasa bahwa mereka datang membawa banyak hal baru yang benar-benar mencerahkan. Tingkah mereka bak oase di tengah sahara. Layaknya air tegukan pertama dalam puasa panjang di sepanjang terik siang yang menyengat tenggorokan.

Dalam forum itu, mereka berdatangan tanpa diminta. Tanpa biaya. Mereka datang dalam jumlah yang kian banyak setiap malamnya. Setiap datang, selalu ada cerita baru, konflik yang mereka ciptakan dengan sahabat akrabnya, hingga gurauan-gurauan yang benar-benar tak pernah dipikirkan oleh kita; orang yang mengaku dewasa tapi tak kunjung bijaksana.

Setelah tunai menyetor hafalan dan menambah hafalan al-Qur’an baru, saya meminta mereka membaca terjemah ayat. Satu anak satu terjemahan ayat. Bergantian. Bergeser ke arah kanan sesuai dengan sunnah Nabi yang mulia.

Di sinilah, pengetahuan sekaligus kebijaksanaan saya diuji. Tak jarang, dahi saya harus berkerut sejenak saat hendak menjawab. Sering pula, saya harus tertawa terbahak sebelum menyampaikan jawaban.

Seperti malam itu. Saat saya menjelaskan sedikit tentang Hari Kiamat. Tiupan pertama untuk menghancurkan. Tiupan kedua untuk membangkitkan. Lantas jembatan shirat, neraka, telaga, dan surga.

Sebagai awalan sebelum terjadinya Hari Kiamat, ada tanda-tanda yang saya ceritakan. Saya menyebut satu kasus; fitnah Dajjal. Setelah menjelaskan ciri-ciri dan apa yang dilakukan oleh Dajjal, satu di antara mereka masih bingung. Ternyata, dia tidak bisa membayangkan Dajjal. Namun, dalam hitungan detik, dia berkata meminta persetujuan, “Om, Dajjal itu monster ya? Monster Dajjal?”

Saya pun tersenyum. Sedikit tertawa. Lantas menjelaskan, “Iya. Monster Dajjal. Matanya satu. Ada tulisan kafir di keningnya.”

Subhaanaka laa ‘ilma lanaa. Innaka antal ‘aliimul hakiim.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]