Minta Dunia, Malah Diberi Akhirat

0
5462

Ada kisah menakjubkan dalam kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam setiap sendi kehidupan. Di antara yang paling fenomenal adalah bagaimana beliau mendidik anak dan menantunya dalam menjalankan ajaran-ajaran Allah Ta’ala.

Suatu hari, Fathimah binti Muhammad terlihat kelelahan. Bahkan, tangannya sedikit lecet sebab terlalu banyak melakukan pekerjaan rumah. Terlihat oleh sang suami, ‘Ali bin Abi Thalib, yang muda dan gagah ini pun iba. Lalu, ia mengusulkan, “Bagaimana jika kau mendatangi Nabi, dan meminta pembantu kepada beliau.”

Tak ada salahnya, sosok berjuluk az-Zahra itu pun bergegas mendatangi ayahnya, Muhammad al-Mushthafa. Disebutkan dalam banyak riwayat, setiap kali kedatangan anaknya, Nabi selalu menyambutnya dengan rindu, menuntun, dan mendudukkan anaknya itu secara terhormat. Tepat di samping tempat duduknya.

Setelah duduk dengan sempurna, Fathimah pun menyampaikan hajatnya. Sang ayah, mendengarkan dengan amat serius. Kelar sampaikan maksudnya, sang ayah pun mulai angkat bicara. “Maukah kau, Anakku sayang,” kalamnya agak berat, “kuberikan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar pembantu?”

Sang putri pun mengiyakan dengan segera. Lalu mengalirlah dengan lembut pesan langit dari ayahnya. Intinya, berdasarkan banyak jalur riwayat, Nabi memerintahkan anaknya itu (dan kaum Muslimin seluruhnya) untuk membaca tasbih (Subhanallah) sebanyak 33 kali, hamdalah (Alhamdulillah) sebanyak 33 kali, dan takbir (Allahu Akbar) sebanyak 34 kali setiap hendak tidur (saat sudah berada di pembaringan).

Inilah di antara sunnah yang amat mulia. Ketiga kalimat ini jauh lebih mulia dan agung dari sekadar pembantu rumaah tangga. Setelahnya, Fathimah pun pulang dengan sumringah dan berkata kepada suami yang amat dicintainya, “Suamiku, Rasulullah memberikan akhirat ketika aku meminta dunia kepadanya.”

Bahagianya. Harmonisnya. Kompaknya. Berkahnya.

Itulah keluarga-keluarga Rabbani yang visinya surga, misinya ibadah dan amal shalih. Pikiran mereka terbang ke akhirat, padahal fisiknya masih berada di dunia. Mereka bergegas dalam ibadah dan amal, sebab ketahui betapa nikmatnya surga dan amat menyengsarakan serta menyakitkannya neraka.

Kepada mereka inilah, seharusnya kita mengambil teladan. Guna teladani mereka inilah, selayaknya kita kerahkan seluruh kemampuan terbaik yang dimiliki. Dengan niat melakukan sunnah Nabi, sesederhana apa pun amalan kita, insya Allah akan berbalas surga. Semoga. [Pirman/Kisahikmah]

SHARE
Previous articleBatalnya Pernikahan Sang Dokter Demi Ibunya
Next articleBakti Kepada Ibu yang Dibalas Tunai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here