Merekalah Orang yang Menipu Allah

0

Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari jahilnya orang-orang ini. Orang-orang yang dianugerahi banyak nikmat, kemudian mereka ingkar. Orang-orang ini melakukan pengingkaran sebab menolak kebenaran. Pikirnya, kebenaran adalah haknya, dan tidak sah jika berasal dari selain mereka.

Barangkali jika yang diingkari adalah sesama manusia biasa, hal itu bisa dimaklumi. Sayangnya, yang mereka ingkari adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan Allah Ta’ala. Parahnya, bahkan mereka menganggap bahwa Allah Ta’ala telah salah mengutus Nabi sebab tidak berasal dari kaumnya, kemudian melakukan makar agar orang-orang terhalang dari jalan hidayah.

Kaum ini baru ada saat Rasulullah hijrah ke Madinah al-Munawaroh. Saat dakwah mulai kuat, mereka semakin besar dan gigih dalam menyembunyikan diri; agar nampak beriman, padahal sebenarnya musuh iman. Ketika ada Nabi dan para sahabatnya, mereka ikrarkan iman dan sampaikan bahwa mereka berada dalam barisan dakwah. Namun, ketika kembali kepada kaumnya, mereka buka topeng itu dan tertawa terbahak-bahak sebab merasa telah berhasil menipu Rasul dan sahabatnya. Lebih parah, mereka merasa telah menipu Allah Ta’ala. Padahal, mereka hanya menipu diri sendiri, namun tak disadarinya.

Kita akan menyaksikan kaum ini mengucapkan kalimat tauhid Laa ilaha illallah. Namun, tujuannya bukan untuk mengikrarkan iman, tetapi agar nyawa dan kekayaan mereka tidak lenyap; sedang hati mereka sama sekali tidak mengakui makna kalimat yang diucapkannya itu. Demikian ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Juraij.

Lalu, untuk apa Allah Ta’ala memberitahukan kepada orang beriman akan hal ini? Mengapa Allah Ta’ala membeberkan kriteria kaum yang berupaya menipu orang beriman dan menipu-Nya? Sebab, Allah Ta’ala menghendaki agar kaum mukminin waspada akan kerusakan yang hendak ditimbulkan oleh kaum bermuka dua ini.

“Akhlaknya tercela; ia membenarkan dengan lisan tapi hatinya mengingkari, dan hatinya berlawanan dengan perbuatannya,” demikian sebagaimana dikatakan Abu Sa’id menjelaskan ciri-ciri kaum ini. Di pagi hari, mereka berkata begini. Namun, siang harinya telah berubah menjadi begitu. Begitu seterusnya. Sehingga, pungkas Abu Sa’id menjelaskan, “Ia berubah-ubah seperti goyangnya kapal karena terpaan angin. Setiap kali angin bertiup, maka ia pun ikut bergoyang.”

Ya. Mereka adalah kaum munafik; yang bermuka dua, suka mengadu domba, dan menebarkan fitnah dengan tujuan merusak kaum muslimin dari dalam. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari bahayanya kaum ini. Aamiin. [Pirman]

Berita sebelumyaInilah yang Menyebabkan Terkuncinya Hati
Berita berikutnyaJika Orang Ini Meminta, Allah Pasti Kabulkan