Menjadi Ekor dalam Kebenaran Lebih Kusukai daripada Kepala dalam Kebatilan

0

‘Abdurrahman bin Mahdi sedang mengurus jenazah. Bersamaan dengannya ada sosok ‘Ubaidillah bin Hasan al-Anbari, seorang tokoh terkemuka, ahli fikih, ulama, dan hakim di Bashrah. Kepadanya, ‘Abdurrahman menanyakan suatu persoalan. Sayangnya, ‘Ubaidillah salah menyampaikan jawaban.

Meski yang salah adalah sosok terkemuka dengan reputasi kebaikan dan pemahaman agama yang sangat baik, ‘Abdurrahman mengingatkan dengan sangat santun, “Semoga Allah Ta’ala memperbaikimu. Jawabannya bukan seperti itu. Yang benar adalah begini dan begini.”

Inilah teladan utama. Ketika kebenaran dijunjung tinggi dan kesalahan diberikan perlakuan yang setimpal; tak peduli siapa pelakunya. Maka, keadilan inilah yang terbaik; berikan hadiah kepada pelaku kebaikan, ingatkan yang salah, dan hukum jika bersikukuh dalam keburukan.

Diingatkan oleh ‘Abdurrahman yang masih anak-anak itu, ‘Ubaidillah yang senior, hakim, dan seorang ulama itu terdiam sejenak. Menunduklah kepalanya, lalu mendongak sembari mengatakan, “Kamu benar, Nak.”

Adakah kini yang bersikap seperti itu? Bahkan ketika nyata salah, hanya karena senior dan merasa pandai, ada banyak di antara kita yang mengumpulkan begitu banyak dalih sebagai pembenaran.

Setelahnya, ‘Ubaidillah mengatakan, “Aku mengikuti pendapatmu dan aku rela dihina untuk itu.”

Itulah kerendahan hati. Bukan hanya mengakui kesalahan diri, tapi juga bergegas mengikuti dan mendukung kebenaran. Sebab, amat banyak yang mengakui kesalahan, namun enggan meralat bahkan bangga dengan kesalahan yang diperbuatnya. Alhasil, ia menjadi pendukung nafsunya, bukan pendukung kebenaran yang hakiki.

Sebagai penutup pernyataannya, sosok inspiratif nan mencerahkan ini menyampaikan kalimat pamungkas yang banyak dikutip oleh generasi selepasnya hingga akhir zaman kelak. Katanya, “Menjadi ekor dalam kebenaran lebih kusukai daripada menjadi kepala dalam kebatilan.”

Demikianlah sikap seorang ulama sejati. Demikianlah muslim prestatif yang baik iman dan akhlaknya. Mereka mendukung kebenaran dan bangga dengannya, meski hanya sebagai ekor dalam tubuh besar bernama kebajikan. Namun, mereka berupaya sekuat tenaga untuk berupaya menaikkan derajat hingga bisa menjadi otak, bahkan hati dari kebenaran.

Sebaliknya, mereka tidak berhajat sedikit pun dengan keburukan. Pun, ketika ada tawaran untuk menjadi kepala dari kesatuan badan bernama keburukan itu. Mereka enggan, bahkan menolak. Sebab, tujuan hidup mereka adalah Allah Ta’ala, sumber dari segala kebaikan. [Pirman]

Berita sebelumyaUlama yang Berlatih Tidak Berdosa selama Lima Belas Tahun
Berita berikutnyaEmpat Hal yang Meningkatkan Kecerdasan menurut Imam asy-Syafi’i

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.