Mengapa Mimpi yang Paling Benar terjadi di Waktu Sahur?

1
9359
ilustrasi mimpi. sumber gambar: maverick-ceo

Mimpi memiliki tiga tingkatan. Yang tertinggi adalah mimpi dari Allah Ta’ala. Yang paling rendah dan buruk adalah mimpi dari setan. Dan mimpi yang terjadi karena pengaruh aktivitas sehari-hari seorang hamba.

Pertanyaannya, bagaimana mengenali mimpi tersebut berasal dari siapa? Adakah tanda-tandanya? Kapankah waktunya? Benarkah bahwa mimpi yang paling benar terjadi di waktu sahur? Apa sajakah syarat-syaratnya sehingga mimpi di waktu itu disebut sebagai mimpi yang paling benar?

Terkait kebenaran mimpi di waktu sahur ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri yang menjaminnya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam at-Tirmidzi, dan Imam ad-Darimi. Ketiga imam ini meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudzri, “Mimpi yang paling benar adalah mimpi yang terjadi di waktu sahur.”

Mengapa waktu sahur? Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah menjelaskannya di dalam kitab Madarijus Salikin yang dikutip oleh Ustadz Salim A. Fillah dalam Lapis-Lapis Keberkahan, “Karena waktu sahur merupakan waktu turunnya Allah Ta’ala, masa ketika rahmat dan ampunan didekatkan, dan setan-setan dalam keadaan diam.”

Lantas, apakah semua mimpi yang terjadi di waktu sahur sertamerta bisa dibenarkan? Bagaimana jika yang bermimpi adalah orang-orang yang tidak pernah shalat atau orang-orang kafir yang tidak mengenal Islam?

Rupanya, garansi kebenaran mimpi di waktu sahur ini hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. “Amat besar keutamaannya,” lanjut Ustadz Salim A. Fillah, “bahkan bagi yang tidur dengan memenuhi adabnya dan berserah kepada Penguasa ruhnya, maka waktu sepertiga malam terakhir adalah saat mimpi seorang mukmin paling mendekati kebenaran.”

Jadi, kebenaran mimpi di waktu sahur hanya digaransi bagi orang mukmin dan yang tidur dengan mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seperti berwudhu, berbaring di sisi sebelah kanan, membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq, an-Nas, Ayat Kursi, dua ayat terakhir al-Baqarah, tasbih (subhanallah 33 kali), tahmid (alhamdulillah 33 kali), dan takbir (Allahu akbar 34 kali), serta sunnah-sunnah lainnya.

Yang tak kalah pentingnya adalah membiasakan diri mengakhiri hari dengan muhasabah, lalu berniat dan berdoa agar dibangunkan di sepertiga malam terakhir agar bisa bermunajat dalam sunnah-sunnah Tahajjud yang amat mulia.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala mengistiqamahkan kita untuk mengamalkan sunnah-sunnah nan mulia ini. Aamiin. [Pirman/Kisahikmah]

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here