Mengapa Malam Itu Rasulullah Tidak Jadi Menggauli Istrinya?

16

Banyak teladan terbaik dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliaulah sebaik-baik contoh dalam seluruh aspek kehidupan. Tak ada yang menandingi beliau dalam seluruh aspek. Beliaulah yang terjamin kebenaran atas semua ucapan, perbuatan dan persetujuannya.

Ada satu peristiwa-yang terlihat-sederhana yang dillakukan Rasulullah, namun amat besar teladan dan hikmahnya bagi umatnya. Malam itu, saat Nabi sudah bersentuhan kulit dengan istrinya, tiba-tiba beliau urung melaksanakan ibadah unggulan pasangan suami-istri. Apakah yang menjadi alasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

Berkunjunglah ‘Abdullah bin ‘Umar dan ‘Ubaid bin ‘Umair kepada Ummu ‘Aisyah istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. ‘Aisyah adalah satu-satunya istri yang dinikahi saat beliau masih perawan, sedangkan lainnya dinikahi setelah menjanda.

Dalam banyak jalur periwayatan disebutkan bahwa Nabi tidak tahan untuk tidak mencium istrinya itu, sebab kecantikan dan pesonanya. Bahkan, sebab mengetahui hal itu pula, Ummu Saudah binti Zum’ah memberikan jatah gilirannya kepada ‘Aisyah.

Maka dua tamu mulia itu pun bertanya kepada Ummu ‘Aisyah, “Kisahkan kepada kami hal paling ajaib yang terdapat pada diri Rasulullah?”

“Seluruh perbuatannya ajaib,” tutur anak Abu Bakar ini. “Suatu malam saat giliran saya,” lanjutnya berkisah, “datanglah beliau, dan kami bersama menuju tempat tidur.”

“Ketika itu,” lanjutnya berkisah, “kulitku sudah bersentuhan dengan kulit sang Nabi.” Namun, sosok istri shalehah yang banyak meriwayatkan hadits ini terkejut saat mendengar suaminya menuturkan, “Apakah engkau mengizinkanku untuk menyembah Rabb?”

Maka istri shalehah yang dinikahi di usia sembilan tahun ini menjawab, “Sungguh,” jawabnya penuh ketulusan, “saya lebih suka berdekatan denganmu dan menyukai aroma tubuhmu.”

Tak lama kemudian, bangkitlah sang Nabi mengambil air wudhu, dan beliau menunaikan shalat Sunnah Malam. Dalam shalatnya yang panjang itu, beliau berdiri, rukuk dan sujud diiringi tangis yang syahdu. Dikisahkan oleh Manshur Abdul Hakim, “Hingga ‘Aisyah melihat air mata Rasulullah jatuh ke lantai.”

Terus begitu, hingga datanglah waktu Subuh, dan Bilal mendatangi Nabi. Melihat kekasihnya menangis, Bilal bin Rabbah bertanya, “Mengapa kau menangis, ya Rasulullah? Padahal Allah Ta’ala telah mengampuni dosa-dosamu yang telah berlalu dan yang akan datang?”

Maka Nabi menjawab, “Tidak patutkah aku menjadi orang yang bersyukur, wahai Bilal?” Lanjut Nabi, “Sungguh, aku menangis karena Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya.” Beliau pun membaca surat ‘Ali Imran ayat 190-191.

Dalam peristiwa ini, ada hikmah yang amat besar. Tentang hubungan badan dan komunikasi suami-istri, kualitas ibadah kepada Allah, pengabdian sahabat kepada sahabat shalehnya, dan masih banyak hal lainnnya. [Pirman]

Berita sebelumyaAyat yang Membuat Rasulullah Menangis
Berita berikutnyaOrang yang Menang Bergulat dengan Setan

16 KOMENTAR

    • aisyah dinikahkan oleh bapaknya ketika masih kecil, tp setelah itu dia masih tinggal dirumah bapaknya(belum melakukan hub suami istri). baru setelah dewasa dia diantar ke rosulullah untuk hidup layaknya suami istri.

      kamu mesti baca dari sumber otentik, jangan asal dengar aja.

  1. Hati hatilah dan lengkap dalam penyampainan dakwah.
    Karna bila hadis riwayat it itu salah. Maka anda telah menyebab an banyak orang murtat setelah membaca ini

  2. Maaf Akhi Pirman, Apa Maksud dari kalimat pertanyaan Nabi kepada Aisyah : “Apakah engkau mengizinkanku untuk menyembah Rabb?” dengan Jawaban Nabi kepada sahabat Bilal bin rabah : “Tidak patutkah aku menjadi orang yang bersyukur, wahai Bilal?” Lanjut Nabi, “Sungguh, aku menangis karena Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya.” Beliau pun membaca surat ‘Ali Imran ayat 190-191. Apa hubungannya dengan surat Ali-Imran tersebut Dengan bangkitnya Nabi dari tempat tidurnya dan bergegas shalat sunnah pada saat Kulit Aisyah sudah bersentuhan dengan Rasulullah SAW. Mohon Penjelasannya. Syukron

  3. Akan lebih bagus kalau cerita di atas ditulis secara runtut dan singkat. Sehingga orang awam seperti saya, bisa memahaminya dengan mudah. Lagi pula pencantuman ayat Al Qur’an tadi, ditulis terjemahannya akan lebih baik…. tidak hanya ayat sekian sekian…… atau bahasa al qur’annya sekalian……

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.