Teladan ‘Umar bin Khaththab yang Dikhianati sebagian Kaum Muslimin

0
2822
ilustrasi @www.internetworld.de

Dr Said Abdul Adhim mengutip sebuah riwayat mengesankan dalam Nikmatnya Membaca al-Qur’an. Ialah dialog antara Nafi’ bin Abdil Harits dengan Sayyidina ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu tentang seorang pemimpin.

Dalam dialog ini ada teladan yang amat direkomendasikan bagi kaum Muslimin. Apalagi menjelang hajat besar negeri ini dalam Pilkada serentak tahun 2017. Jika ikuti teladan dari ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu ini, insya Allah kaum Muslimin akan selamat dan berjaya.

Nafi’ bin Abdil Harits merupakan seorang pemimpin di sebuah daerah. Ia berniat mengunjungi Sayyidina ‘Umar bin Khaththab di Makkah al-Mukarramah. Oleh karena itu, Nafi’ menitipkan amanah kepemimpinannya kepada ‘Abdurrahman bin Abza untuk sementara waktu.

Beberapa saat setelah sampai di kota kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan bertemu dengan Sayyidina ‘Umar bin Khaththab, sang Khalifah bertanya, “Kepada siapa engkau titipkan kepemimpinanmu di lembah sana?”

Nafi’ bin Abdil Harits menjawab, “Aku menitipkannya kepada ‘Abdurrahman bin Abza.”

“Siapa dia?” tanya ‘Umar, teliti.

“Seorang budak.” jawab Nafi’, datar.

“Atas alasan apa hingga engkau memilihnya (seorang budak) untuk menjadi pemimpin penggantimu?” lanjut ‘Umar ingin memastikan.

“Karena dia merupakan orang yang memahami semua kewajiban dan seorang qari’ al-Qur’an.” terang Nafi’ tenang.

Mendengar keterangan yang disampaikan oleh Nafi’ bin Abdil Harits ini, Sayyidina ‘Umar pun berkata, “Sungguh, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya dengan al-Qu’an ini, Allah Ta’ala akan mengangkat derajat suatu kaum dan akan menghinakan kaum yang lain.’”

Hadits yang agung ini diriwayatkan oleh Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala dalam kitab Shahih no 1934.

Al-Qur’an adalah kunci kebangkitan. Kaum Muslimin akan kembali bangkit dan memimpin peradaban jika kembali kepada al-Qur’an serta mengamalkan ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya.

Sedangkan kejumudan, keterbelakangan, kemiskinan, dan semua jenis kemunduran yang dialami kaum Muslimin saat ini merupakan akibat dari ditinggalkannya Kalam Allah Ta’ala ini. Al-Qur’an hanya dijadikan bacaan, perlombaan, dan ritual semata. Padahal seharusnya, al-Qur’an dijadikan sebagai sebagai edoman hidup. Sebagai panduan mendapatkan bahagia di dunia dan akhirat.

Herannya, masih ada sekelompok kaum Muslimin yang mengkhianati teladan dari ‘Umar bin Khaththab ini. Banyak yang membela seorang pemimpin di sebuah wilayah, padahal ia bukan seorang pembaca, penghafal, dan pengamal al-Qur’an. Bahkan pemimpin itu telah nyata merusak kaum Muslimin dan kehidupan di tempat dia memimpin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]