2 Hal Paling Dibenci ‘Ali bin Thalib, Tapi Sering Dikerjakan Oknum Kaum Muslimin

0
12702
ilustrasi @tyhealthcare

Laki-laki ini beriman sejak belia. Ia yang pertama mengakui Kenabian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari kalangan anak-anak. Dalam perjalanan hidupnya, laki-laki ini menjadi satu di antara empat sahabat terbaik Nabi dan kelak terpilih sebagai menantu dari manusia paling mulia di muka bumi ini.

Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Seorang Muslim paripurna yang gagah, cendekia, dan taat. Keshalihannya diberbincangkan dan senantiasa diteladani kaum Muslimin sampai akhir zaman. Pemikiran dan teladannya tak pernah habis, sampai umat manusia dikembalikan kepada Allah Ta’ala di Hari Kiamat.

Sayyidina ‘Ali memang mengagumkan. Ialah sosok penuh pesona, melebihi banyak laki-laki lain di masanya.

Sayyidina ‘Ali bin Thalib dijamin masuk surga. Beliaulah laki-laki yang terpilih untuk menggantikan di pembaringan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam peristiwa Hijrah menuju Madinah al-Munawarah. Sebuah pilihan yang pelik, sebab artinya; Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib sudah siap mati untuk Islam yang mulia.

Dalam fase kehidupan selanjutnya, Sayyidina ‘Ali bin Thalib Radhiyallahu ‘anhu juga terpilih sebagai menantu Nabi. Ia dinikahkan dengan Sayyidatina Fathimah az-Zahra Radhiyallahu ‘anha. Inilah satu di antara banyaknya pasangan paling serasi dan ideal di muka bumi ini; laki-laki shalih bersanding dengan wanita shalihah, laki-laki tampan dan gagah menjadi pasangan wanita suci dan cantik jelita.

Tapi, ‘Ali bin Abi Thalib juga manusia biasa. Ia tak layak disucikan. Ia pernah kerjakan salah, meski kadarnya kecil. Ia, sebagaimana kita, memiliki kegemaran dan membenci beberapa hal. ‘Ali bin Abi Thalib, sebagaimana dituturkan Imam Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khatir, membenci dua hal berikut ini.

Sayangnya, dua hal ini justru banyak dikerjakan oleh kaum Muslimin.

“Hal yang dibenci ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu adalah terus makan setelah merasa kenyang dan mengenakan pakaian untuk menyombongkan diri.”

Nah, siapa yang tetap makan padahal sudah kenyang? Siapa yang masih memasukkan berbagai jenis makanan ke dalam perutnya padahal isinya sudah penuh?

Siapa pula yang sibuk bergonta-ganti pakaian hanya agar terlihat kaya, tampan, dan tindakan menyombongkan diri lainnya?

Makan itu sekadar untuk menguatkan badan. Berpakaian juga disyariatkan untuk menutup aurat. Bukan sarana untuk menyobongkan diri.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]