Lelaki Miskin dari Yaman yang Doanya Tidak Tertolak

0
ilustrasi @pinterest
ilustrasi @pinterest
ilustrasi @pinterest

Tidak perlu minder, galau ataupun malu jika menjadi orang yang miskin secara harta. Karena kemuliaan seorang manusia tidak hanya terletak pada seberapa besar jumlah kekayaannya. Miskin hanya salah satu episode ujian dalam hidup, yang dengannya itu, seorang manusia harus bersabar dan berusaha sungguh-sungguh agar tidak menggadaikan imannya karena kemiskinannya.

Ada yang mengatakan, terlahir miskin bukan kesalahan. Tapi jika mati dalam keadaan miskin, itulah kesalahan yang sebenarnya. Barangkali kalimat ini tidak harus ditelan mentah-mentah. Karena yang terpenting adalah usaha dengan sunggh-sungguh. Terkait hasil, itu adalah urusan prerogatif Allah Ta’ala.

Tengoklah sejarah. Ada sahabat yang awalnya kaya raya, setelah masuk Islam memfokuskan diri dengan dakwah hingga wafat di medan perjuangan dengan tidak menyisakan apa pun sebagai warisan berbentuk harta. Bahkan, kain kafan untuk beliau saja tidak cukup. Tapi, sahabat tersebut dijamin surga oleh Rasulullah Saw. Beliau wafat dalam keadaan miskin, tapi berhasil masuk surga. Apakah ini sebuah kesalahan?

Suatu hari Rasulullah Saw pernah berkata kepada Umar bin Khaththab dan ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau menyebutkan akan ada seorang shaleh dari Yaman yang doanya didengar dan dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Nabi bersabda, “Jika berjumpa dengannya, minta tolonglah agar dia berdoa untuk kalian.”

Rupanya, lelaki shaleh asal Yaman yang dimaksud oleh Rasulullah Saw adalah sosok miskin. Bahkan beliau berjalan dengan menyertakan ibunya dari Yaman ke Makkah. Sesampainya di Makkah, beliau melakukan Thawaf di sekitar Ka’bah dengan menggendong ibunya. Meskipun miskin, lelaki shaleh ini sangat berbakti kepada ibunya. Beliau adalah Uwais al-Qarni yang namanya senantiasa harum dalam sejarah kegemilangan Islam dan kaum muslimin.

Demikianlah sejarah mengajarkan kepada kita. Kemiskinan harta hendaknya tidak menjadikan seseorang minder. Sebab orang miskin yang sabar akan senantiasa dirahmati Allah Ta’ala dan senantiasa berada dalam keberkahan-Nya.

Tentu saja, kemiskinan tidak menjadi sebuah pembenaran. Seorang muslim harus berupaya sekuat mungkin agar bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Karena sejatinya, kemiskinan bukan terletak pada harta. Justru ketika seseorang merasa haus harta, meski uangnya berlimpah, justru ialah yang mengidap penyakit miskin. Dan, mereka yang hidup pas-pasan, namun merasa cukup dengan karunia Allah Ta’ala, merekalah sejatinya sosok yang kaya. [Pirman]

Berita sebelumyaMasya Allah… Inilah 3 Balita Penghafal al-Qur’an
Berita berikutnyaMerencanakan Kematian