Lebih Baik Mempercayai Suara Keledai

0
ilustrasi @ustadchandra

Pernah suatu hari ada orang yang mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk meminta nasihat. Kemudian Nabi berkata kepada orang tersebut agar tidak berdusta. Hingga akhirnya, hanya dengan satu nasihat itu, orang tersebut benar-benar bertaubat seraya meninggalkan dosa dan maksiat yang dia lakukan.

Dalam kesempatan yang lain, Nabi juga amat melarang umatnya untuk berdusta, meskipun hanya sekali. Sebab, kebohongan atau dusta pertama yang dilakukan oleh seseorang akan menjadi pemicu bagi timbulnya dusta kedua, ketiga, dan seterusnya, hingga orang tersebut benar-benar menjadi pendusta.

Dikisahkan pada sebuah zaman seorang yang meminjam keledai kepada salah satu orang kaya di kabilahnya. Saat meminjam, diadakanlah akad sekian masa hingga keledai itu wajib dikembalikan oleh peminjam. Maka berlalulah waktu hingga habis tempo masa peminjaman.

Ternyata, peminjam itu tidak kunjung datang untuk mengembalikan keledai. Ditunggu dalam sehari hingga beberapa hari kemudian, ia tak juga muncul. Hingga, peminjam pun berinisiatif mendatangi rumah peminjam untuk menagih.

Sesampainya di rumah peminjam, selepas duduk beberapa saat, sang peminjam bertanya, “Mengapa kau tak datang untuk mengembalikan keledai yang kau pinjam?”

Berpura-pura sedih, peminjam keledai menunjuk ke sebuah gundukan tanah di samping rumahnya sembari berkata, “Keledai Tuan mati, aku tidak tega untuk menyampaikannya. Itu kuburnya.”

Namun, nurani sang peminjam mengingkari penjelasan tersebut, sebab peminjam dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang suka menipu. Keraguan sang peminjam terbukti ketika tiba-tiba terdengar suara ringkikan keledai dari belakang rumah peminjam.

Langsung saja ia berkata, “Benarkah keledaiku telah mati? Aku baru saja mendengar suaranya. Aku mengenal betul suara keledai itu.”

Seperti telah mempersiapkan jawaban, peminjam itu menjawab dengan melemparkan pertanyaan, “Apakah kau lebih mempercayai keledaimu dibanding penjelasan dariku?”

Demikianlah dusta. Ia selalu bermula dari kebohongan pertama. Kemudian kedua, dan berlanjut hingga menjadi kebiasaan. Bukankah karakter seseorang memang terbentuk karena pembentukan dan pembiasaan berkali-kali dalam waktu yang amat lama?

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari buruknya sifat itu. Sebab dusta ini pula, orang-orang munafik mendapatkan siksa dari Allah Ta’ala kelak di akhirat. Karena dusta yang mereka lakukan pula, banyak orang yang tersesat dan terhalang dari kebenaran. [Pirman]

Berita sebelumyaMengapa Rasulullah tidak Membunuh Orang Munafik?
Berita berikutnyaAllah Mencari-cari Aurat Orang Ini