Korelasi Antara Puasa dan Jihad

0
866
ilustrasi @news.pn

Tidak ada satu pun perintah Allah Ta’ala yang tidak mengandung hikmah, manfaat, rahasia, faedah, dan keajaiban. Selain pahala jika dilakukan dengan ikhlas dan benar sesuai sunnah Nabi, ada juga bonus lain yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Padahal, Dia Mahakaya dan tidak membutuhkan ibadah dari semua makhluk-Nya. Itulah di antara bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada orang-orang yang beriman.

Di balik puasa ada jutaan hikmah dan rahasia. Selain takwa, puasa juga memiliki segudang manfaat medis yang menghasilkan kesehatan prima bagi pelakunya. Puasa juga memiliki hubungan yang erat dengan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki tugas berdakwah dan berjihad untuk meninggikan kalimat Allah Ta’ala.

“Adalah suatu hal yang logis apabila diwajibkan puasa atas suatu umat yang berkewajiban melakukan jihad di jalan Allah Ta’ala.” Itulah kalimat pembukaan yang dipilih oleh Sayyid Quthb saat menafsirkan surat al-Baqarah [2] ayat 183. Jihad sendiri, lanjutnya, memiliki tiga tujuan utama; memantapkan manhaj-Nya di muka bumi, menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, dan menjadi saksi atas manusia lain.

Karenanya, puasa merupakan sarana yang amat tepat untuk memantapkan akidah yang kokoh dan teguh serta menghubungkan seorang hamba yang amat lemah kepada Allah Ta’ala yang Mahakuat. Yaitu hubungan ketaatan dan kepatuhan yang lebih mulia dari kebutuhan fisik belaka. Selain itu, menurut ulama yang menjadi korban rezim zalim di negerinya itu, “Puasa merupakan latihan ketabahan untuk memikul tekanan dan bebannya demi mengutamakan keridhaan dan kesenangan Allah Ta’ala.”

Maka di awal perintah yang berat ini, Allah Ta’ala memanggil hamba-Nya dengan sapaan penuh kasih sayang sebagai sebentuk motivasi atau suntikan semangat. Dia berkata amat lembut, “Wahai orang-orang yang beriman.” Bukankah amat membanggakan jika iman kita diakui oleh Allah Ta’ala? Adalah suatu hal yang amat menyenangkan saat Dia yang Mahakuasa memanggil, lalu memberikan sebuah perintah yang amat berharga bagi kemanfaatan dirinya sebagai hamba yang tak memiliki daya dan kekuatan apa pun.

“Oleh karena itu,” jelasnya dalam kitab tafsir yang dirampungkannya di dalam penjara, “dimulailah taklif ini dengan panggilan penuh kecintaan kepada orang-orang mukmin, yang mengingatkan mereka kepada hakikat mereka yang pokok.”

Dengan puasa inilah seorang mukmin akan mampu melewati semua ujian yang merintanginya di sepanjang perjalanan dakwah. “Semua ini (puasa) merupakan unsur-unsur penting dalam mempersiapkan jiwa untuk memikul rintangan perjalanan yang penuh hambatan dan duri, yang di sekelilingnya dipenuhi berbagai macam keinginan dan syahwat, serta beribu-ribu kesenangan yang dibisikkan di telinganya.”

Sayangnya, makna puasa yang seperti ini menjadi kabur di zaman kita. Pasalnya, ketika dulu para sahabat menjalani puasa dalam keadaan jihad fi sabilillah, sebagian besar kaum Muslimin memilih asyik tidur dengan dalih ibadah atau begadang malam sambil menyaksikan tontonan yang tak bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Na’udzubillah. [Pirmn/Kisahikmah]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here