Kisah Wanita Shalihah yang Menawarkan Diri untuk Dinikahi Seorang Sufi

0
ilustrasi @wikislampedia
ilustrasi @wikislampedia
ilustrasi @wikislampedia

Cantik. Keturunan Iran. Fathimah namanya. Anak seorang pangeran. Meski hidup dalam gelimang harta, ia tak lalai. Tidak suka berfoya-foya, waktunya justru dimanfaatkan untuk berdzikir, membaca al-Qur’an, shalat sunnah dan ibadah-ibadah lainnya. Dalam catatan sejarah, nama Fathimah dilengkapi dengan an-Nisaburiya. Ialah tempat dimana dirinya hidup dan berkarya. Sosok ini lebih dikenal sebagai seorang sufi wanita.

Barangkali disini kita perlu berhenti. Untuk meluruskan paham. Tak perlu lama, sejenak saja. Meski sufi wanita, Fathimah amat taat menjalankan sunnah. Jadi, sufi berbeda dengan mereka yang memilih mengasingkan diri, bertapa dan enggan menikah. Fathimah tidak demikian.

Sebab merasa sebagai salah satu umat Muhammad Saw, ia ingin menjalankan sunnah mulia. Menikah. Maka, diutuslah orang kepercayaannya kepada lelaki shaleh yang seorang sufi juga. Rupanya, sudah lama ia menaruh hati pada sang sufi shaleh ini.

Ahmad namanya. Ayahnya bernama Khudruya. Bukan asal pilih. Dalam hemat Fathimah, Syaikh Ahmad cocok dengannya. Sama-sama menempuh jalur sufi, sehingga bisa saling memahami. Maka, mengirimkan utusan tuk tawarkan dirinya adalah sebuah kemuliaan. Persis seperti yang dilakukan Ummu Khadijah kepada Rasulullah Saw yang mulia.

Sayangnya, sang utusan pulang dengan tangan hampa. Cinta sang sufi wanita ini bertepuk sebelah tangan. Syaikh Ahmad belum menyetujui ajuan diri Fathimah. Namun, Fathimah tak menyerah. Ia berprasangka baik. Barangkali Syaikh Ahmad hanya menguji kesungguhannya. Maka, masih melalui utusannya, Fathimah ajukan diri untuk kedua kalinya.

Qadarullah, ajuan diri yang kedua ini diiyakan oleh Syaikh Ahmad. Ia berpikir, wanita shalihah yang mengajukan dirinya itu serius menapaki jalan sunnah melalui menikah. Pasalnya, secara keilmuan dan kriteria lainnya, Fathimah satu kelas berada di atas dirinya.

Maka menikahlah keduanya. Sepasang sufi itu memadu cinta dalam sunnah. Bahagia. Tapi, mereka tak lalai. Lepas menikah, keduanya semakin intens dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’alaa. Keduanya saling membantu dan bahu membahu dalam mengejawantahkan cintanya kepada Sang Pencipta semesta.

Sebab menikah dengan Syaikh Ahmad itu pula, Fathimah memiliki akses untuk berkenalan dengan guru sufi termasyhur kala itu: Dzun Nun al-Mishri dan Bayazid Bistami. Kesempatan langka itu pun dimanfaatkan dengan amat baik. Melalui dua guru spiritual itu, Fathimah semakin matang dalam riyadhah mendekatkan dirinya kepada Allah Swt.

Oleh dua guru spiritualnya ini, Fathimah dipuji. Dzun Nun yang merupakan guru spiritual terbesar zaman itu berkata, “Fathimah adalah wanita shalihah yang sangat memahami al-Qur’an.” Sedangkan Bayazid Bistami berkomentar, “Dalam sejarah hidupku, aku hanya mengenal satu-satunya wanita yang layak dipuji, ialah Fathimah.”

Sontak saja, sang suami cemburu. Apalagi yang memuji adalah gurunya juga. Maka, demi mengetahui kecemburuan sang suami, Fathimah berkata lembut, “Kau adalah karib dengan diri alamiahku. Sedangkan ia (kedua syaikh) adalah jalan spiritualku.”

Fathimah hendak menegaskan kepada suaminya, “Mas, tak usah cemburu. Kaulah satu-satunya suami yang memiliki hak terhadap diriku sepenuhnya. Sedangkan mereka adalah guru yang darinya aku mendapatkan ilmu serta jalan untuk lebih mengenal Allah Swt.”

Demikianlah, jalan sufi yang dipiih Fathimah tak membuat dirinya lalai untuk mengabdikan diri kepada suami yang dicintainya. [Pirman]

Berita sebelumyaKisah Ulama yang Menolak Suap Senilai 1,2 Milyar
Berita berikutnyaKisah Kepala Negara yang Memerahkan Susu Kambing untuk Rakyatnya