Kisah untuk Yang Harapkan Imbalan Sedekah

0
2883
Ilustrasi Pemanggul Sedekah @idberitayahoo

Tersebutlah seorang kiyai sepuh nan shalih di sebuah desa. Muridnya banyak dan tersebar di segala penjuru kampung. Sosoknya teduh, dihormati dan disayangi oleh semua kalangan. Dalam sehari, tak terhitung banyaknya orang yang berkunjung ke rumah beliau yang sederhana, namun menentramkan dan nyaman dihuni.

Suatu hari, datanglah salah satu santrinya. Sudah menjadi kebiasaan dan salah satu akhlak yang baik, sang santri pun membawa ole-ole untuk diberikan kepada gurunya itu. Santri pertama ini miskin. Ia hanya memiliki singkong. Itu pun tidak banyak.

Maka, dibawalah singkong itu dengan keikhlasan penuh oleh sang murid. Lepas salam, cium tangan, bertanya kabar, dan berbincang-bincang, ia pun pamit. Kata sang kiyai, “Kamu bawa apa, Le?”

Jawab sang santri malu-malu, “Cuma singkong kok, Mbah.”

“Alhamdulillah,” jawab sang kiyai. “Kalau begitu, segera ke belakang ya. Ambil ayam. Boleh disembelih buat makan atau kamu pelihara ya.”

Meski agak sungkan, si santri pun mengikuti perintah sang kiyai seraya berharap keberkahan dari pemberian orang shalih.

Tak lama setelah kepulangan santri pertama, datanglah santri kedua. Kali ini, ia membawa ayam jago. Besar. Gemuk. Dan, gagah. Berikan perlakuan yang sama, sang kiyai pun bertanya kepada santri kedua, “Itu kamu bawa apa, Le?”

“Mohon maaf, Kiyai,” ujar sang santri tawadhu’, “cuma seekor ayam. Semoga berkah buat kami.”

“Alhamdulillah, insya Allah berkah, Le.” Lanjut sang kiyai sebelum santrinya pulang, “Kamu ke belakang ya. Itu ada kambing. Sudah lama gak beranak. Boleh disembelih, dijual, atau dipelihara.”

Sang santri kedua pun sibuk merapal tahmid dan takbir, lalu pamit dari rumah sang kiyai.

Rupanya, dua fenomena tamu unik ini diperhatikan oleh si Fulan. Bukan santri. Tapi, tinggal di dekat kampung sang kiyai. Ia memperhatikan dengan betul dua kejadian itu. Maka, ia pun bergumam, “Santri pertama membawa singkong, dapatnya ayam. Santri kedua membawa ayam dapatnya kambing.”

Ia pun bergegas ke belakang rumahnya. Ada kambing yang lebih besar dan gemuk dari kambing yang diberikan sang kiyai ke santri kedua. Dengan semangat membara, ia menggiring kambingnya itu seraya berdendang, “Pasti saya dapat kerbau nih. Atau, kambing dua ekor.”

Setelah bertemu dan berdiskusi, si Fulan pun tak kunjung pamit. Sementara itu, sang kiyai ada acara yang tak bisa ditinggalkan. Hingga, beliau memperhatikan tingkah tamunya yang kebingungan ini. Akhirnya, beliau pun bertanya, “Kamu tadi bawa kambing? Buat siapa?”

“Iya, Pak Kiyai,” jelasnya malu-malu, “buat Pak Kiyai.”

“O, makasih ya. Mudah-mudahan berkah.”

Si Fulan masih terdiam. Bingung. Salah tingkah. Hingga, sang kiyai pun berkata, “Di rumah sudah gak ada apa-apa lagi. Semuanya punya pesantren. Harta miliki saya ini tinggal singkong bawaan murid saya. Jadi, nanti kalau mau pulang, jangan lupa bawa singkong itu ya? Saya buru-buru mau ngisi kajian.”

Si Fulan pun makin bengong. Hayo… [Pirman/Kisahikmah]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here