Kisah Su’ul Khatimah: Mati setelah Dengarkan Musik Jahiliyah

0
6368
sumber gambar: m.ask.fm

Kematian memang misteri. Tidak ada yang mengetahui, kapan, dimana, dan dalam keadaan bagaimana. Hanya Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui akhir hidup hamba-hamba-Nya.

Misteri akhir hidup seseorang di dunia inilah yang menjadi satu di antara sekian banyaknya bukti bahwa Allah Ta’ala Mahaadil. Dengan kemisterian itu, orang-orang beriman akan harap-harap cemas. Dia akan senantiasa berbaik sangka kepada Allah Ta’ala, juga tidak bertindak konyol dengan menjerumuskan diri dalam kesia-siaan yang ujungnya berbuat maksiat.

Akan tetapi, sebagai bentuk Mahaadil-Nya yang lain, Allah Ta’ala juga membuat sebuah kaidah pasti yang disebut dengan sunnatullah. Sunnatullah inilah yang harus dipegang, sehingga orang-orang yang beriman tidak mengalami kegamangan atau kegalauan dalam hidupnya.

Salah satu sunnatullah itu, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa seseorang akan dibangkitkan sebagaimana ia dimatikan. Sebelum itu, ia akan dimatikan sebagaimana kebiasaannya di kala hidup.

Kaidah ini pula yang menjadi penjelas, ada begitu banyak pemain olah raga yang mati saat latihan atau bertanding di lapangan. Ada pula pilot yang meninggal dunia saat menerbangkan pesawat. Begitu juga dengan profesi-profesi atau kebiasaan-kebiasaan lainnya.

Jika pun ada orang baik yang dimatikan dalam keadaan buruk, maka hal itu hanyalah pengecualian, jumlahnya sedikit, dan terkandung hikmah Allah Ta’ala di balik peristiwa langka itu. Yang menjadi jamak, pelaku maksiat akan dimatikan di lokasi maksiat. Dan pelaku ketaatan akan diawafatkan dalam keadaan ibadah dan beramal shalih.

Di sinilah perlunya kita menjaga diri. Jangan sampai sengaja melakukan perbuatan buruk, meski dengan dalih ‘sekali-kali’. Sebab amat mudah bagi Allah Ta’ala untuk mematikan kita saat sedang beramal jahat.

Seorang laki-laki tengah mengalamai sakaratul maut. Di rumah sakit. Seluruh keluarga dan tetangganya berkumpul. Sebagian membaca al-Qur’an, sebagian lainnya berdoa dan membaca kalimat dzikir, dan beberapa mentalqinnya.

Lama. Nyawa masih di kandung badan. Hingga datanglah seorang sahabat akrabnya. Setelah berdiskusi dengan keluarganya, dia mengingat satu hal; kebiasaan si sakit. Tak lama kemudian, dia pun mengambil music palyer, lalu memutar lagu jahiliyah kesukaan si sakit.

Berselang jenak, anggota badan si sakit bergerak lemah, layaknya berjoget. Beberapa detik setelahnya, nafasnya hilang. Innalillahi wa inna ilahi raji’un.

Wahai diri, berpikirlah dengan jernih. Hendak dimatikan dalam keadaan seperti apa, begitulah seharusnya kita membiasakan diri. Biasakan diri dalam ibadah, insya Allah kelak dimatikan dalam menghamba kepada-Nya.

Sebaliknya, jika tidak mau dimatikan dalam keadaan mendengar musik jahiliyah, jika enggan dimatikan dalam keadaan menonton film barat atau asia yang tak jelas pahalanya, segera tinggalkan perbuatan itu.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan husnul khatimah kepada kita. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

LEAVE A REPLY