Kisah (Sukses) Poligami Ustadz M. Arifin Ilham

5

Kiyai Haji Muhammad Arifin Ilham menikah dengan istri pertamanya pada tahun 1998. Ialah seorang wanita salehah yang dipertemukan oleh Allah Ta’ala saat beliau mengisi pengajian. Beberapa masa setelahnya, beliau melihat wanita tersebut dalam mimpinya. Kemudian, beliau melakukan shalat Istikharah, meminta restu orang tua, dan keduanya pun menikah. Insya Allah berkah meliputi pernikahannya.

Dua belas tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 2010, dai yang masyhur dengan dzikir penyejuk hatinya ini menikah untuk kedua kali. Poligami. Sang istri kedua yang beliau sebut sebagai ‘Bidadari ‘Aisyah’ ini merupakan salah satu jamaah dzikirnya. Hampir sama dengan pernikahan pertama, beliau melihat gadis yang nampak berdarah Arab ini dalam mimpi beliau.

Sebagian kita, mungkin belum tahu bagaimana detail poligami sang dai kelahiran Banjarmasin ini. Apalagi, beliau tak banyak diliput oleh media dalam acara berbalut gossip yang mengotori hati. Lantas, bagaimana kisah ini secara detail? Mudah-mudahan tulisan ini memberikan manfaat bagi kaum Muslimin.

Pertama, luruskan niat karena Allah Ta’ala dan meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Beliau mengisahkan, tidak ada wanita yang mau dimadu. Maka, beliau hanya memohon kepada Allah Ta’ala. Pasalnya, hampir semua kehidupan sunnah sudah beliau jalani. Mulai Tahajjud setiap malam, shalat Subuh berjamaah di masjid, menjaga wudhu, dan sebagainya. Nah, tutur beliau seraya menggoda jamaah, “nah, ta’addud (poligami) ini yang belum pernah.”

Lanjutnya mengisahkan, “Arifin ingin memiliki istri seperti istri-istri Nabi. Bagaimana mengaturnya, mendidiknya, dan sebagainya.” Benar saja, setiap malam Jum’at, dai yang pernah koma selama dua puluh satu hari lantaran bisa ular ini mengumpulkan kedua istrinya untuk memperdalam ilmu agama. Bersama-sama.

Kedua, pertimbangkan saran kiyai, ustadz, guru, dan orang terdekat

Ketika niat poligami itu diutarakan kepada guru, ustadz, dan kiyai serta orang-orang terdekatnya, ada di antara mereka yang sampaikan nasihat, “Arifin jangan poligami. Nanti jamaah kabur. Nanti dakwahnya dibenci.” Dan kalimat-kalimat lain sebagaimana dialami oleh dai lain yang menjadi korban media penebar gossip dan fitnah.

Kepada mereka yang menyampaikan itu, dai yang semasa kecilnya pernah kabur dari rumah lantaran tidak dibelikan motor balap ini menukasi dengan tegas, “Itu kalimat syirik dari mulut orang yang beriman. Allahlah yang memuliakan dan menghinakan manusia. Bukan lantaran poligami atau tidak.”

Seloroh beliau sebagaimana ditayangkan di sebuah acara televisi, “Lah yang gak nikah dihinakan juga banyak kok…” [Pirman/Kisahikmah]

Berlanjut ke Kisah (Sukses) Poligami Ustadz M Arifin Ilham (2)

Berita sebelumyaPada Suatu Malam Giliran ‘Aisyah, Mengapa Rasulullah Tidak Bisa Tidur?
Berita berikutnyaKisah (Sukses) Poligami Ustadz M Arifin Ilham (2)

5 KOMENTAR

  1. Ditinjau dari segi Jenis NAFSU.
    1.Selingkuh adalah termasuk golongan jenis Nafsu Lawamah.
    2.Sikap Istri tidak mau dimadu /dipoligami adalah bagian dari Nafsu Marhamah.
    3.Sikap Suami izin Poligami (dijalan Allah) dan Istri yang mengizinkan adalah bagian dari Nafsu Mutmainah.
    Atas tinjauan singkat tersebut, maka bisa disimpulkan mana yang lebih dekat, surgakah ato nerakakah.

  2. Comment: Apapun alasannya polygami erat kaitannya dengan syahwat. Cobalalah cari kesuksesan yg lain, yg lebih bermanfaat bagi semua umat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.