Kisah Sufi Muda yang Membuat Orang Islam Bertaubat

0
7272
ilustrasi @nasional.republika.co.id

Abu Abdillah al-Harits bin Asad al-Muhasibi lahir di Bashrah sekitar 165 Hijriyah. Laki-laki yang mengambil peran sejarahnya sebagai seorang sufi besar dan imam tarekat ini banyak menulis kitab dan memiliki kisah yang dipenuhi hikmah.

Sekitar dua ratusan kitab lahir dari jemarinya, banyak kaum Muslimin yang menangis hingga pingsan saat mendengarkan ceramahnya. Banyak hati yang terenyuh menyimak taujih sang Imam. Banyak kalimat-kalimat mencerahkan yang lahir dari lisannya.

Imam al-Harits al-Muhasibi merupakan guru dari sufi besar Imam al-Junayd al-Baghdadi. Beliau juga menginspirasi Imam al-Ghazali hingga melahirkan karya monumental bidang pencusian jiwa, Ihya’ ‘Ulumuddin.

Abu Abdillah al-Harits cemerlang sejak belia. Saat melewati anak-anak seusianya yang tengah bermain, ada seorang laki-laki dewasa penjual kurma memberikan kurma kepadanya.

Bukan langsung menerima, Abu Abdillah bertanya kepada si laki-laki, “Kurma dari mana ini?”

“Baru saja aku menjual kurma kepada seseorang. Ada beberapa kurmanya (setelah dibeli) yang jatuh.” jawab si laki-laki.

“Apakah engkau mengetahui hal itu?” lanjut al-Harits.

“Iya.” jawab si laki-laki.

Al-Harits pun menoleh ke arah anak-anak. Tanyanya, “Apakah laki-laki itu seorang Muslim?”

Jawab mereka bersamaan, “Betul. Dia seorang Muslim.”

Tanpa jeda, al-Harits muda langsung pergi tanpa menyampaikan satu kata pun kepada si laki-laki. Dia juga tidak sudi menerima kurma pemberiannya.

Lantaran ganjalan di dalam hatinya, si laki-laki mengejar al-Harits muda. Tanyanya setelah berhasil mengejar, “Demi Allah, ada yang mengganjal di hatiku hingga engkau mengatakan isi hatimu.”

“Jika Tuan seorang Muslim, seharusnya Tuan mencari pemilik kurma itu dan meminta kerelaannya agar Tuan mendapatkan keselamatan. Tuan harus mencarinya seperti pencarian Tuan terhadap air saat tengah didera kehausan.”

Ketika laki-laki penjual kurma tengah memikirkan kalimat al-Harits, dia  menutup penjelasannya dengan berkata, “Bagaimana mungkin Tuan memberikan kurma haram kepada anak-anak yang tidak tahu, padahal Tuan seorang Muslim?”

“Demi Allah,” lirih laki-laki penjual kurma, “aku tidak akan pernah mengutamakan dunia lagi.”

Subhanallahi walhamdulillahi wa laa ilaha illallahu wallahu akbar.

Demikian inilah keadaan orang-orang terpilih. Mereka berhasil mendidik dirinya sejak belia, saat anak-anak seusianya masih sibuk dengan permainan yang tak jelas maknanya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

SHARE
Previous article3 Perkara Duniawi yang Dicintai Rasulullah
Next articleOrang Ini Tidak Diakui sebagai Golongan Rasulullah