Kisah Sayyid Quthb Membungkam Perdana Menteri

0
1973
Kisah Sayyid Quthb
Kisah Sayyid Quthb (ilustrasi @Esha Ardhie)

Kisah Sayyid Quthb. Meski berbadan kecil dan pendek dengan kumis khasnya, laki-laki bernama Sayyid bin Quthb Ibrahim atau masyhur dengan panggilan Sayyid Quthb ini memiliki keberanian tak terbantahkan. Keberanian Sayyid terlihat dari tulisan maupun ceramah-ceramahnya.

Pada masanya, Perdana Menteri Muhammad Mahmud menyampaikan ancaman kepada rakyat Mesir. Ia akan menggunakan cara diktator kepada siapa pun yang bersifat vokal terhadap pemerintahannya.

Atas nama kebenaran, api keberanian yang bersemayam dalam nurani Sayyid Quthb menggelegak. Keberanian itu terwujud dalam kalimat singkat yang padat makna.

“Wahai Bapak pemilik tangan besi, jika tangan besi itu Bapak cari, niscaya Bapak sudah menemukannya dalam keadaan dingin dan kaku.” tulis Sayyid dalam sebuah artikel.

Kemarahan Perdana Menteri tak terbendung setelah kalimat Sayyid itu sampai kepadanya. Melalui stafnya, ia memerintahkan agar Sayyid Quthb diundang ke istana.

Sesampainya di istana, Perdana Menteri melihat anak muda bertubuh kecil dan pendek, sama sekali tak sesuai dengan imajinasinya.

“Jadi, kamu yang menulis artikel ini?” tukas Perdana Menteri.

“Betul,” jawab Quthb, singkat.

“Kenapa tulisanmu sekeras ini?” lanjut Perdana Menteri, menginterogasi.

“Saya,” jawab Sayyid tegas, “menulis apa yang saya yakini.”

Meski awalnya jengkel, Perdana Menteri tak kuasa menyembunyikan kekagumannya kepada Sayyid. Lantaran kekaguman itu pula, Perdana Menteri batal memberikan hukuman kepada Sayyid.

“Sudahlah, Nak,” pungkas Perdana Menteri, menyerah, “Tulislah sesukamu!”

Demikianlah salah satu karakter keberanian Sayyid Quthb yang lahir di Musyah pada 9 Oktober 1906. Quthb yang bekerja di Kementerian Pendidikan Mesir selama 18 tahun lebih ini merupakan lelaki reformis yang selalu mengikuti bisikan kebenaran dari dalam hatinya.

Ia pernah belajar di Amerika selama 2 tahun, kemudian bergabung bersama organisasi pergerakan Islam Ikhwanul Muslimin dan menjadi salah satu konseptor pergerakannya. Ia produktif menulis buku. Salah satunya tafsir Fi Zhilalil Qur’an yang ia tamatkan penulisannya di balik jeruji besi.

Akhir hidupnya pun lantaran menulis buku. Ma’alim Fi Thariq-salah satu masterpiecenya-membuat rezim zhalim negerinya kebakaran jenggot, lalu Quthb dizhalimi dengan dihukum gantung setelah mengalami siksaan yang berat di penjara.

Sayyid memang telah tiada, tapi pemikiran dan ilmunya senantiasa menerangi zaman. [Kisahikmah]

Rujukan: Biografi Sayyid Quth, Dr Shalah Al-Khalidy

SHARE
Previous article4 Keutamaan Puasa Arafah
Next articleKeajaiban Allah untuk Pasangan yang Menikah Sebelum Mapan