Kisah Rasululah dalam Mengentaskan Pengemis

0

ilustrasi_pengemisJumlah pengemis di negeri ini semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Perkembangan pesat itu justru terjadi di kota-kota besar. Padahal, kota besar seharusnya menjadi sebuah contoh kemajuan.

Setelah ditilik, ternyata pengemis sudah menjadi profesi. Bahkan sudah terstruktur dengan rapi dan menjadi bisnis terselubung yang amat menggiurkan.

Lantas, bagaimana langkah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dalam mengentaskan fenomena ini? Apakah di zaman beliau sudah ada pengemis?

Tersebutlah seorang pengemis dari kalangan anshar, penduduk Madinah. Ia mendatangi Rasulullah Saw untuk meminta-minta. Beliau yang mulia, tak langsung memberi. Bertanyalah beliau kepada pengemis itu, “Apakah kau memiliki sesuatu di rumahmu?”

Dijawab oleh pengemis itu, “Ada, ya Rasulullah. Aku memiliki pakaian dan sebuah cangkir.” Rasul pun memintanya untuk membawa barang yang disebutkan. Sesmpainya pengemis dari rumahnya, Rasul mengumpulkan para sahabat.

“Adakah diantara kalian yang ingin membeli ini?” Tanya Rasulullah Saw sembari menunjukkan pakaian dan cangkir milik pengemis.

Segera, ada sahutan dari salah seorang sahabat beliau, “Aku sanggup membelinya seharga satu dirham.” Sang Nabi melanjutkan, “Adakah yang ingin membayar lebih?” Ternyata, Rasulullah melelang dua harta milik pengemis itu.

Dijawablah oleh sahabat lain, “Aku mau membelinya seharga dua dirham, ya Nabiyullah.” Maka sahabat inilah yang berhak memiliki pakaian dan cangkir milik pengemis.

Rasululah pun memberikan hasil penjualan kepada pengemis sembari berpesan. Kata Nabi, belilah kebutuhan untuk keluargamu dengan uang ini. Sebagiannya yang lain untuk membeli kapak. Rasul juga memerintahkan pengemis itu kembali kepada beliau setelah membeli kapak.

Setelah menyerahkan makanan kepada anak dan istrinya, pengemis itu menemui Rasulullah sambil membawa kapak, sesuai yang diperintahkan. Nabi bersabda, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah.”

Dua pekan kemudian, sosok yang mulanya berprofesi sebagai pengemis itu mendatangi Sang Nabi. Dari hasil mencari kayu, ia memiiki uang sebanyak 10 dirham.

Rasul pun bersabda, “Hal ini lebih baik bagimu. Karena meminta-minta hanya membuat noda di wajahmu, kelak di akhirat.”

Beliau menjelaskan, tak layak menjadi peminta-minta kecuali bagi tiga orang. Pertama, fakir miskin yang benar-benar tidak memiliki sesuatu. Kedua, orang yang memiliki hutang dan tidak bisa membayarnya. Ketiga, orang yang berpenyakit sehingga tak mampu berusaha.

Demikianlah cara Rasulullah Saw dalam mengentaskan pengemis. Beliau tidak memberi ikan, melainkan kail. Jika hanya diberi ikan, maka ia akan habis dalam hitungan waktu. Namun, ketika kail yang diberikan,  orang itu bisa mencari sebanyak mungkin ikan untuk dimanfaatkan.[]

Berita sebelumyaSang Penggerak Hati
Berita berikutnyaSuamiku (bukan) Ikhwan