Kisah Pernikahan Pertama Ustadz M. Arifin Ilham

8
29637

Mulanya, dai muda asal Banjarmasin ini pernah mengajukan satu nama wanita sebagai calon istri kepada ibunya. Namun, sang bunda mengatakan ketidaksetujuannya. Maka, dengan tegas beliau mengatakan dalam salah satu ceramahnya, “Arifin tidak mungkin menerima orang baru tanpa persetujuan Mamah.”

Berbilang waktu kemudian, sosok dai dengan suara bertenaga ini pun bertemu dengan wanita yang merupakan anak kiyai sekaligus anggota DPR RI kala itu. Tanpa sengaja. Saat keduanya antre dalam sebuah jamuan makan. Jarak keduanya hanya sekitar tiga meter. Tidak sengaja, hanya sekali bertabrakan lirikannya. Lalu, keduanya tersenyum.

Entah berapa lama setelahnya, ada salah satu sahabat yang menawarkan sosok calon istri ke ustadz muda yang merupakan lulusan Universitas Nasional ini. “Ustadz mau saya kenalkan dengan wanita sebagai calon istri?” Lanjutnya sampaikan keterangan, “Insya Allah shalihah. Anaknya kiyai. Rumahnya di Kalibata.”

Berniat menjaga diri dari zina dan menjalankan sunnah Nabi, ustadz Arifin menyanggupi. Tetapi, mereka berencana ketemuan di bilangan Depok Jawa Barat.

Di kediaman yang direncanakan, sosok sahabat tersebut menunjukkan selembar foto, lalu menunjukkan gadis yang hendak ditawarkan sebagai istri kepada ustadz yang pernah dipatok ular hingga taksadarkan diri selama 21 hari ini. Berselang detik kemudian, gadis yang ada di dalam foto itu pun keluar dari sebuah ruangan bersama ibunya.

Ingatan sang ustadz pun mundur ke belakang. Pasalnya, beliau merasa pernah bertemu dengan gadis tersebut. Tetapi, beliau lupa kapan, di mana dan dalam acara apa. Hingga, beliau mengingat pertemuan pertama dalam sebuah antrean makan tempo hari.

Sepulangnya dari rumah tersebut, beliau pun melakukan shalat istikharah di sepertiga malam yang terakhir. Beliau senantiasa berkonsultasi kepada Allah Ta’ala. Meminta pertimbangan tentang sosok gadis yang dikenalkan kepadanya itu. Hingga akhirnya, beliau pun mantap untuk melakukan lamaran.

Uniknya, beliau melamar dengan langsung menelpon. Tanpa basa-basi. Pada sebuah pagi selepas Subuh. “Aku Muhammad Arifin Ilham,” ungkap sang ustadz dengan berani. “Aku ingin melamarmu untuk menikah pada tanggal satu Muharram.” Pasalnya, hari itu merupakan tahun baru Hijriyah yang merupakan waktu bersejarah bagi kaum Muslimin di semua tempat.

Selanjutnya, sang ustadz pun menyampaikan empat hal setelah niat untuk menikah di tanggal tersebut. Pertama, “Aku ingin menikah karena Allah.” Kedua, “Aku ingin menikah karena melakukan sunnah Nabi.” Ketiga, “Aku ingin terbang. Tetapi, sayapku hanya satu. Dan, aku ingin agar kau menjadi sayap kedua.” Dan yang terakhir, “Aku menunggu jawabanmu jam 5 esok pagi. Setelah Subuh.”

Duh, bagaimana kiranya perasaan wanita yang mendapatkan kehormatan tersebut? Dilamar dengan cara yang baik, lalu sang lelaki mengajaknya bersegera menikah. Wanita bernama lengkap Wahyuniati al-Waly ini pula yang dengan ikhlas mengizinkan suaminya tersebut menikah untuk yang kedua kali setelah dua belas tahun pernikahannya. [Pirman/Kisahikmah]

8 COMMENTS

  1. Gimana perasaan isteri pertama waktu beliau meminta izin untuk menikah lagi ? Apa alasan beliau ? dan kenapa bukan nenek2 atau janda tua yang dinikahi seperti halnya Rasul ? Tolong dibahas juga ya ? Terima kasih

  2. iya zaman sekarang poligami seperti Rasulullah dengan tujuan mulia untuk memardekakan budak dan mengangkat derajat janda tua adalah imposible,,, ustads sekarang poligami hanya karena nafsu saja dan merusak islam,, lihatlah org berjenggot rata-rata istri pertamanya sudah tua dan istri keduanya masih muda, montok dan semlohay,,, rahasia umumlah tu….. sekarang pelaku poligami kebanyakan munafik!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here