Kisah Pernikahan Lelaki Kaya dan Tampan dengan Wanita Gemuk, Hitam dan Tidak Cantik

0
ilustrasi @fivethreebook
ilustrasi @fivethreebook
ilustrasi @fivethreebook

Mencintai seseorang sebelum menikah adalah pilihan. Sedangkan menikahi seseorang –yang dicintai atau belum- adalah keputusan. Keputusan amat penting karena akan dijalani sepanjang hidup. Pun, ketika ada pintu cerai yang berarti mundur dari keputusan awal tuk menikahi, maka hal itu menjadi pintu halal yang amat dibenci Allah Swt.

Lelaki tampan dan kaya itu dengan gagah memasuki kamar pengantinnya. Di dalamnya, sang istri yang baru dinikahinya tengah menunggu malu-malu. Lepas mengetuk pintu dan mengucap salam, terdengarlah jawaban merdu dan ucapan mempersilakan masuk.

Ada getar yang tak tergambar. Ada rasa penasaran yang sama sekali tak terlukiskan sebelumnya. Barangkali, momen gemuruhnya rasa kala itu dirasakan oleh semua orang yang pernah menikah, apalagi mereka yang menikah di jalan dakwah.

Pasalnya, sebagaimana pasangan dakwah lainnya, lelaki itu bahkan belum pernah melihat sosok istrinya secara jelas. Hanya sepintas ketika melirik dalam taaruf tempo hari. Baru pada malam itu jelaslah semuanya.

Lepas disibaknya tirai kamar pengantin, lelaki itu sempat mundur dalam hitungan mili detik. Kaget. Sosok yang dinikahinya adalah wanita gendut, hitam dan sama sekali tak cantik jika menyebut jelek adalah sebuah bentuk pelecehan.

Seperti membaca raut muka suaminya, wanita yang telah sah menjadi istri itu justru berujar, agak mengagetkan, “Ini harta dan kekayaanku,” lanjutnya, “ambillah. Manfaatkan untuk dakwah.” Belum apa-apa, pembicaraan kedua pasangan itu sudah menyangkut harta dan dakwah.

Belum sempat membalas, sang istri sudah melanjutkan, “Aku hanya membutuhkan status pernah menikah,” katanya. Tanpa aling-aling, ia meneruskan, “Pergilah dan sejak sekarang kau boleh langsung menikah dengan wanita lain,” pungkasnya diakhiri dengan helaan nafas panjang yang sempat tertahan beberapa saat sebelumnya.

Cepat menguasai suasana, lelaki kaya nan tampan itu segera mengambil posisi duduk di samping wanita yang telah menjadi pendamping hidupnya itu. Seraya menggenggam tangan sang istri, disertai tatapan dalam ke mata dan hati wanita halalnya itu, sang suami memulai, agak serak, “Setelah ucapan akad nan mengharukan tadi,” maka, lanjutnya, “Aku telah mengambil keputusan untuk menikahimu.” Masih dengan suasana yang sama, lelaki itu mengatakan seraya memungkasi, “Karenanya, aku akan mencintai setulus hatiku karena Allah Swt sebagaimana niatku saat memulai menjalin komunikasi dengamu sebelum menikah.”

Sahabat, ini bukan drama. Bukan pula novel atau cerita fiksi lainnya. Kisah ini fakta adanya. Bahkan, lepas pernikahan dan dialog ‘sengit’ malam itu, keluarga kecil mereka dipenuhi bunga ceria dan semangat untuk berdakwah yang semakin menyala.

Dalam perjalanan masa, ketika usia pernikahan keduanya bertambah dan hadirah banyak anak-anak sebagai salah satu bukti cinta keduanya, orang-orang saling bertanya, apa yang menjadi sebabnya? Mengapa laki-laki tampan dan kaya itu mau dan mampu bertahan lama dengan istrinya yang hitam, gemuk dan (maaf) jelek?

Lalu meluncurlah jawaban nan tulus dari sosok suami yang baik hati itu, “Setelah malam itu, dia melakukan kerja-kerja cinta melebihi apa yang kuharapkan,” ujarnya memuji sang istri. “Karena pesona akhlak itulah,” lanjutnya, “hal-hal fisik sama sekali tak menarik perhatianku.” Belum usai, lelaki ini memungkasi, “Kebaikan budinya membuatnya jauh lebih cantik dibanding urusan wajah, dan sejenisnya.”

Begitulah keputusan. Ia adalah sebentuk kegagahan. Harus diambil, dipupuki, dirawatt, disiangi dan kerja-kerja penumbuhan lainnya. Saat cintamu berhasil menyentuh potensinya, pasanganmu itu akan semakin mekar, berbunga dan berbuah. Semoga. [Pirman]

Berita sebelumyaKisah Pemabuk yang Bertaubat Setelah Ditolong Abu Hanifah
Berita berikutnyaBeginilah Rasulullah Saw Memuliakan Anak-anak