Kisah Nyata Terkabulnya Doa, Dikaruniai Tiga Adik Kembar

0
ilustrasi @muhammad-khudhori
ilustrasi @muhammad-khudhori
ilustrasi @muhammad-khudhori

Berdoalah kepada Allah Ta’ala, niscaya Dia akan mengabulkan pinta yang terpanjat. Allah Ta’ala Maha Mendengar. Dia mengabulkan doa sesuai dengan kehendak-Nya, dan menangguhkan pengabulan atau memberikan ganti terbaik atas permintaan seorang hamba yang belum dikabulkan.

Berdoalah ketika waktu mustajabah. Di antara adzan dan iqamah, sesaat setelah selesai shalat, dalam sujud, saat bepergian, ketika hujan turun, di sepertiga malam, seusai membaca al-Qur’an, di hari Jum’at, dan banyak lagi waktu lainnya.

Di sebuah sekolah di Saudi Arabia, terdapatlah seorang guru muslimah dengan semua murid muslimahnya mempraktikkan amalan doa mustajabah ini. Saat adzan Dhuhur berkumandang, sang Guru menghentikan aktivitas mengajarnya. Ia berkata kepada murid-muridnya, “Jawablah adzan sesuai dengan sunnah Nabi.”

Setelah adzan selesai, beliau kembali menyampaikan kepada anak didiknya, “Sekarang, berdoalah. Sampaikan hajat kalian kepada Allah Ta’ala.” Sang Guru memberi waktu kepada muridnya untuk berdoa sepanjang dua hingga tiga menit. Saat beliau mengatakan, “Berdoa selesai,” ada seorang murid yang masih khusyuk dengan pinta yang dipanjatkan.

Kejadian yang berulang itu pun mendapat perhatian sang Guru. Hingga tibalah pada suatu episode di kelas itu pada hari yang lain.

Sesaat sebelum pelajaran berakhir, Guru itu mengumpulkan semua buku muridnya. Ada tugas yang harus diperiksa. Setelah selesai diperiksa, dipanggillah muridnya satu persatu. Hingga tiba giliran si Murid yang terlihat khusyuk dan lama dalam setiap doa yang dipanjatkan di kelas itu.

Sang Guru memulai, “Nak, aku melihatmu berdoa dengan amat serius dalam waktu yang lama.” Murid shalihah itu hanya mengangguk. Guru melanjutkan, “Apa yang kau panjatkan dalam tiap munajatmu itu?”

Dengan polos, muslimah kecil itu bercerita, “Saya berdoa agar dikaruniai adik perempuan, Bu,” tetapi, lanjutnya, “Kata ibu saya, doa tersebut salah.” Sang Guru mengerutkan dahi sejenak. Kemudian muridnya itu melanjutkan, “Menurut ibu, saya harus berdoa meminta adik laki-laki. Karena saya seorang perempuan,” ujarnya santai.

“Nah,” lanjut sang Murid surmringah, “karena itu, saya berdoa meminta adik perempuan sesuai keinginan saya,” dan, “adik laki-laki sesuai permintaan ibu.” Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Saya juga meminta adik laki-laki satu lagi.” Katanya menjelaskan, “Agar adik laki-laki yang dikehendaki ibu tidak kesepian. Karena saya pun merasa kesepian karena tidak memiliki adik perempuan.”

Mendengar penuturan muridnya, Guru itu hanya tersenyum. Pantas saja lama, dia memanjatkan tiga permintaan berupa tiga adik dengan bahasa anak-anak yang-tentu saja-disampaikan dengan lugu, tanpa memikirkan keefektifan kalimat.

Setelah kejadian itu, sang Murid tetap khusyuk dalam setiap doanya ketika di dalam kelas. Sedangkan sang Guru sama sekali tidak mengingat-ingat perbincangan tersebut, karena hanya menganggapnya sebagai bentuk kepolosan anak-anak.

Dua tahun berlalu, saat sang Murid duduk di kelas tiga sekolah tingkat menengah pertama itu, ia datang menghampiri gurunya di kelas satu dulu. Seraya berbinar sorot matanya, ia berkata, “Bu, ada kabar gembira,” lanjutnya sebelum sempat ditanya, “tadi pagi ibu saya melahirkan. Alhamdulillah adiknya kembar tiga. Satu perempuan, dua laki-laki.”

Ia pun teringat perbincangan dua tahun lalu di kelasnya. Dengan menengadah ke langit, ia hanya berucap, “Masya Allah”, takjub akan kemahabesaran Allah Ta’ala yang mendengar doa bocah kecil itu. Doa yang dipanjatkan di waktu mustajabah di antara adzan dan iqamah. [Pirman]

Berita sebelumyaMalam itu, Malaikat Jibril Memeluk Rasulullah Tiga Kali
Berita berikutnyaBersenang-senang di Surga karena Ranting dan Dahan Berduri