Kisah Kiyai yang Wafat saat Shalat Tahajud

0

Allah Ta’ala menilai kehidupan seorang hamba berdasarkan kondisi akhir dan bagaimana upayanya dalam memperbaiki diri. Sebab yang menjadi salah satu penentu akhir kehidupan adalah kebiasaan sehari-hari orang tersebut.

Karenanya, banyak pemain sepak bola yang mati di lapangan hijau, pelaku dosa yang meregang nyawa dalam keadaan maksiat, ataupun orang shaleh yang wafat ketika shalat, sujud, dzikir, membaca al-Qur’an, dan amalan-amalan shaleh lainnya.

Inilah pula yang menjadi salah satu alasan pentingnya kita agar senantiasa menjaga diri; supaya istiqamah di jalan kebaikan. Sebab mempertahankan jauh lebih sunlit di banding mendapatkan. Apalagi jika hal itu dilakukan seumur hidup, dan tak pernah tahu kapan kehidupan kita akan berakhir.

Kematian memang misteri. Karenanya orang-orang yang beriman akan selalu waspada dengan menjaga dirinya. Ia akan berupaya agar setiap detik yang dijalani menjadi pundi-pundi kebaikan sehingga memperbanyak bekal saat menjalani hidup di akhirat kelak.

Karena hal ini pula, orang yang cerdas, sebagaimana disebutkan oleh Nabi, adalah mereka yang menyadari mati dan bersiap diri akan kedatangannya dengan mengumpulkan sebanyak mungkin bekal melalui amal shaleh.

Dikisahkan oleh Habiburrahman El-Shirazyi dalam salah satu ceramahnya di Masjid at-Tiin beberapa tahun lalu dalam acara Dzikir Nasional, ada seorang kiyai yang wafat dalam keadaan yang biasa ia lakukan di sepanjang hidupnya.

Adalah sosok kiyai teladan; dekat dengan Allah Ta’ala, optimalkan waktu dalam dakwah, lisan, hati dan pikirannya senantiasa berdzikir mengingat-Nya ‘Azza wa Jalla, bicaranya menentramkan, senyumnya menginspirasi, dan lembut dalam berinteraksi dengan santri dan jamaahnya.

Pagi itu, warga setempat dan para santri telah siap mendirikan shalat Subuh berjamaah di masjid. Ketika waktu iqamah hampir dekat, biasanya Pak Kiyai keluar dari mihrabnya untuk menjadi Imam.

Namun, menjelang iqamah, tak ada tanda-tanda bahwa Pak Kiyai akan keluar dari masjid. Bahkan hingga berlalu puluhan menit setelah waktu iqamah, beliau belum menampakkan dirinya. Maka lantaran khawatir akan berakhirnya waktu Subuh, salah satu jamaah berinisiatif masuk ke mihrab karena mengira Pak Kiyai tertidur selepas mendirikan Tahajud yang sudah menjadi kebiasaannya.

Tak lama kemudian, orang yang berniat memanggil Pak Kiyai justru berlari dari dalam mihrab menuju masjid dengan kondisi nafas yang tak stabil.

Jamaah pun segera menyambut orang tersebut dengan perasaan yang tak menentu; antara khawatir, takut dan juga bingung. Sesampainya orang tersebut dan langsung dikerumuni jamaah, sang utusan berkata terbata-bata, “P…a…k K..i..y..a..i,” lanjutnya agak tenang setelah mengatur nafas, “Badannya… dingin…, tak… bergerak…,” pungkasnya, “Dalam… keadaan… bersujud…”

Tanpa dikomando, para jamaah pun berlarian menuju mihrab tempat Pak Kiyai biasa mendirikan Tahajud dan shalat sunnah lainnya. Sesampainya di sana, salah satu dari jamaah berupaya membangunkan Pak Kiyai. Namun, saat disentuh, badan Pak Kiyai yang tengah bersujud itu roboh.

Lantas dilakukan penegcekan denyut nadi, dan mereka pun serentak mengucap, “Inna lillahi wa inna ilahi raji’un.”

Pak Kiyai wafat ketika beliau tengah mendirikan shalat Tahajud.[Pirman]

Berita sebelumyaWaspadailah Lima Racun Hati (Bagian 2)
Berita berikutnyaRezeki Satu Truk Beras lantaran Shalat Dhuha