Kisah Istri yang Mencarikan Mempelai untuk Suaminya

0
ilustrasi © Viva.co.id

Laki-laki itu sebenarnya tak mau berpoligami. Namun sang istri terus mendesaknya. “Ini sudah tahun kesebelas Mas, dan kita belum juga dikaruniai putra. Apakah engkau tak ingin memiliki penerus keluarga, anak-anak yang mendoakanmu ketika engkau tiada? Engkau tak perlu mengkhawatirkan diriku. Aku sudah siap.”

Berulang-ulang sang istri mendorong suaminya agar mau berpoligami. Dengan berbagai alasan. Hingga kemudian sang suami berani mengiyakan. “Aku sendiri yang akan mencarikannya untukmu, Mas”

Seperti banyak aktifitas lainnya, poligami bisa menjadi solusi bisa pula menjadi masalah. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Tetapi ketika poligami dipilih atas niat suci dan dengan kerelaan istri, berkah pun menghampiri.

Sang istri kemudian mencarikan istri kedua untuk suaminya. Ia paham betul bahwa ia bukan sekedar mencari perempuan yang bisa memberikan suaminya keturunan, tetapi juga menjadi saudarinya. Karenanya ia mencarikan sosok yang dipandangnya beriman, menjaga diri dan memiliki karakter wanita shalihah.

Hari yang bersejarah itu pun terjadi. Akad nikah kedua. Antara suaminya dengan wanita yang dipilihkannya. Tentu sebagai wanita ia tak bisa berbohong ada perasaan berat dalam hatinya. Sebentuk perasaan cemburu. Cemburu besar. Tapi ia menahannya, mengelolanya, lalu berdamai dengan rasa itu. Seiring hari-hari dan pekan yang berlalu, ia berhasil mengesampingkan rasa itu. “Ini saudariku, ini saudariku” demikian ia tanamkan di dadanya.

Hingga akhirnya, ia menuturkan seperti dikisahkan Syaikh Abdul Muththalib Hamd Utsman dalam Qashash wa Thara’if Lailah ad Dukhlah: “Allah telah menganugerahinya anak-anak yang kuanggap anak-anakku sendiri.”

Lalu, bagaimana dengan istri kedua? Bahagiakah ia?

“Pada awalnya aku takut,” kata istri muda itu, “aku awalnya takut mengambil keputusan yang penuh ujian ini, terlebih aku pernah mendengar apa yang sering menimpa istri kedua. Tapi aku mendapati hal yang benar-benar berbeda. Aku hanya mendapati kebaikan dan kebaikan. Aku hidup bersama suamiku satu atap dengan saudariku itu. Ia saudariku yang mulia, aku tidak menemukan sesuatu padanya kecuali kebaikan. Sebagaimana ia selalu membantuku di kala susah, ia juga mengasihi anak-anakku seperti anak-anaknya sendiri.” [Kisahikmah.com]

Berita sebelumyaRibuan Orang Jadi Mualaf Setelah Penghina Nabi Kena Adzab
Berita berikutnyaJika Saat Ini Detik Terakhir dalam Hidup Kita