Kisah Hakim Pemberani dan Pertaubatan Sultan Bayezid

1
4134
Masjid Hagia Shofia (saibah.co.id)

“Kesaksianmu tidak diterima,” perkataan hakim itu mengejutkan semua orang yang hadir di pengadilan. Bagaimana tidak, saksi yang ditolak itu adalah Sultan Bayezid. Pemimpin Turki Utsmani bergelar Al Fatih Al Kabir (penakluk besar) karena berhasil mengalahkan pasukan salibis pimpinan Baba Bunega Giush dan juga berhasil menaklukkan Bulgaria, Albania dan Bosnia Herzegovina.

Alasannya, “karena engkau tidak mengerjakan shalat lima waktu berjama’ah. Dan orang yang tidak shalat berjama’ah tanpa udzur syar’i lebih rentan untuk memberikan kesaksian palsu.”

Di antara orang-orang yang menghadiri persidangan itu ada yang bergidik. Tak bisa membayangkan seandainya tiba-tiba kepala hakim terpisah dari badannya hanya dengan satu kerdipan mata atau isyarat tangan Sang Sultan. Sebab apa yang dikatakan hakim itu menurut sebagian orang sudah masuk daam kategori pelecehan terhadap kepala negara.

Tetapi Sultan Bayezid hanya diam. Lelaki gagah itu kemudian membalikkan badan dan keluar dari ruang persidangan dengan tenang. Ia tidak membela diri, tidak juga menghukum hakim tersebut karena memang benar adanya. Ia sendiri yang menginformasikan ketika ditanya oleh hakim sebelum diambil sumpah. Dengan jujur ia mengatakan bahwa dirinya sering tidak shalat jama’ah.

Hari itu juga, Sultan Bayezid memerintahkan pembangunan masjid raya di dekat istana. Dan begitu masjid itu selesai dibangun, Sultan Bayezid selalu shalat jamaah di sana.

Kisah yang disarikan dari Hadiqah As Salatin karya sejarawan Turki Utsman Nazzar ini memberi banyak inspirasi kepada kita. Secara jama’i, inilah sebagian sebab mengapa kekhilafahan Islam kuat dan dicintai umat. Yakni ketika para pemimpinnya berorientasi akhirat dan mengedepankan taqarrub ilallah daripada pertimbangan-pertimbangan dunia. Dan hukumnya pun adil tanpa pandang bulu. Meskipun yang ada di pengadilan adalah Sultan, bukan berarti ia diistimewakan. Persis seperti kisah hakim yang memenangkan Yahudi atas Khalifah Ali dalam kasus baju besi.

Kisah ini juga menjadi inspirasi bagi setiap pribadi muslim. Tak perlu marah ketika ada orang menunjukkan aib atau mencela kesalahan kita. Tak perlu membabi buta ketika ada orang yang melontarkan kritik kepada kita. Justru itu adalah cermin, agar kita memperbaiki diri. Tak perlu mencari alasan untuk membela diri karena itu justru menutupi sensitifitas kita untuk bertumbuh. Sebaliknya, jadikan kritik dan cela sebagai pendorong kemajuan kita. Jika memang ada yang keliru dari laku kita, saatnya memperbaiki diri. Jika memang ada yang salah dari masa lalu kita, saatnya bertaubat dan menjadi pribadi yang lebih bertaqwa. [Muchlisin BK/Kisahikmah]

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here