Kisah Bani Israil yang Menitipkan Seribu Dinar kepada Allah

1

Tersebutlah dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal seorang Bani Israil yang mendatangi saudaranya untuk meminjam uang senilai seribu dinar. Teman yang dipinjami pun meminta syarat berupa seorang saksi. Namun, sang peminjam hanya mengatakan, “Cukuplah Allah yang menjadi saksi.”

Ketika yang dipinjami mengulangi persyaratannya, yang meminjam kembali menyampaikan jawaban serupa. Maka demi melihat kejujuran sahabatnya itu, sang pemberi pinjaman pun memberikan uang senilai seribu dinar.

Setelah itu, berlalulah sang peminjam menyeberangi lautan untuk menunaikan hajatnya. Hingga tibalah jatuh tempo pengembalian pinjaman.

Sang peminjam pun berlalu lalang mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari perahu. Niatnya bulat untuk mengembalikan uang yang dipinjam. Ditentenglah uang seribu dinar, bolak-balik, mondar-mandir ke sana ke mari. Namun, ia tak menjumpai perahu.

Hingga beberapa saat kemudian dilihatnya sebatang kayu yang mengapung. Dalam benaknya, uang sebanyak itu bisa disiasati untuk dimasukkan ke dalam kayu, kemudian dilempar ke laut. Meski Nampak konyol, sang peminjam ini tetap melakukan aksinya sebagai wujud kesungguhannya dalam menepati janji.

Kata sang peminjam, “Ya Allah, aku meminjam uang ini, dan Engkau adalah saksinya.” Lanjutnya menyampaikan, “Aku telah berusaha mencari perahu, namun tak kudapati satu pun yang bisa mengantarkanku ke sana.” “Maka,” tegas sang peminjam, “kutitipkan uang ini kepada-Mu.”

Ternyata, jauh di seberang lautan, sang peminjam tengah menunggu temannya itu. Hingga lama, tak didapatinya tanda-tanda kedatangannya. Saat hampir pulang, pandangannya tertuju pada kayu yang mengambang, mendekati daratan.

Maka dihampirilah kayu itu untuk dibawa pulang sebagai kayu bakar. Saat dibelah, didapatilah uang dan selembar surat.

Beberapa waktu kemudian, datanglah sang peminjam dengan perasaan bersalah. “Demi Allah, sebelum mendatangi Anda sekarang ini, saya telah berusaha mencari perahu, namun saya tidak mendapatkannya.”

“Apakah kamu mengirimkan sesuatu?” tanya pemberi pinjaman.

“Bukankah aku telah mengatakan bahwa tak kudapati perahu yang bisa mengantarkanku ke tempat ini?” jawab sang peminjam.

“Sesungguhnya,” ujar sang pemberi pinjaman, “Allah telah mengantarkan uang pinjamanmu yang kau letakkan di dalam sebatang kayu.”

Hadits ini, kutip Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dan disebutkan di tujuh tempat melalui jalan yang shahih secara muallaq dengan ungkapan yang sangat jelas.

Maka begitulah niat yang baik; Allah Ta’ala akan berikan balasan tunai, bahkan lebih baik dari yang diniatkan. [Pirman]

Berita sebelumyaJika Berdagang, Lakukan Ini Agar Masuk Surga
Berita berikutnyaAyat yang Terasa Sangat Berat bagi Sahabat Nabi

1 KOMENTAR

  1. Jgn pernah lupa membayar hutang,, di akhirat hutang kita akan ditagih.. masih belum bisa mengerti betapa mudahnya orang2 yang berhutang dan tidak berniat mengembalikan pdhl terutama mereka yang mengerti azabnya.. Naudzubilahimindalik..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.