Kisah Ali bin Abi Thalib Kedinginan Tak Punya Selimut

0
ilustrasi padang pasir dingin © twanight.org
ilustrasi padang pasir dingin © twanight.org
ilustrasi padang pasir dingin © twanight.org

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah amirul mukminin saat itu. Khalifah, pemimpin negara. Ia bisa saja hidup kaya, karena wilayah Islam telah sedemikian luas dan baitul mal selalu menyimpan kas. Tetapi, seperti para pendahulunya, ia memilih hidup sederhana. Bahkan sangat sederhana, hingga membuat banyak orang menitikkan air mata saat melihat secara langsung kehidupannya.

Seperti malam itu. Seorang laki-laki, seperti diabadikan Syaikh Musthafa Murad, melihat Ali bin Abu Thalib kedinginan. Tubuhnya menggigil seperti dilanda demam. Di malam yang hawa dinginnya sangat menusuk itu, rupanya sang Khalifah hanya memakai selimut beludru. Ia tidak memiliki selimut tebal.

“Wahai amirul mukminin, sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian dari baitul mal untukmu dan untuk keluargamu. Tapi aku melihatmu kedinginan seperti ini karena tidak punya selimut”

“Demi Allah,” jawab Ali, “aku tidak mau mengambil sedikitpun harta umat di baitul mal. Selimut ini aku beli dari uang pribadiku.”

Subhanallah… adakah pemimpin seperti ini di zaman sekarang? Pemimpin yang rela kedinginan dan kelaparan. Pemimpin yang bersedia menjadi orang terakhir yang kenyang setelah umatnya menikmati makanan. Pemimpin yang bersedia menjadi orang terakhir yang beristirahat, setelah umatnya bisa tidur dengan nyenyak.

Tentang bagaimana Ali bin Abu Thalib membeli kain yang tak mampu melawan dingin itu, kisahnya tak kalah mengharukan. Menantu Rasulullah ini berniat membeli kain, sekedar mengurangi hawa dingin yang menusuk. Tetapi ia tidak memiliki uang. Benar-benar seperti dongeng. Seorang kepala negara sekaligus kepala pemerintahan tidak memiliki uang untuk sekedar membeli kain. Padahal penguasa yang sezaman dengannya dari kalangan non muslim, mereka hidup foya-foya dan bermewah-mewahan. Bahkan, setelah zamannya berlalu, penguasa muslim pun mengikuti gaya hidup mewah. Sedangkan Ali, sahabat yang dijamin masuk surga ini bahkan tidak memiliki uang empat dirham pun. Ya, harga kain yang ingin dibeli Ali cuma empat dirham. Namun ia tidak memilikinya. Dan karenanya, Ali kemudian menjual pedangnya.

“Siapakah yang mau membeli pedangku ini? Seandainya aku memiliki empat dirham untuk membeli kain, tentu aku tidak akan menjual pedang ini,” kata Ali di pasar. Subhanallah… tidakkah hati kita teriris menyaksikan kesederhanaan dan kezuhudan ini? Hidup kita terlalu mewah dibandingkan dengan Ali.

Seorang budak Abu Ghissin yang menyaksikan Ali membeli kain menceritakan apa yang dilihatnya. Bahwa Ali kemudian menemui pedagang kain dan membeli sebuah kain yang sangat murah. Hanya empat dirham. Kain itu ternyata tidak sepanjang tubuh Ali. Dan itulah sebabnya. Bukan hanya kurang tebal, kain itu juga tidak bisa menutupi seluruh tubuh Ali.

Tetapi itulah jalan hidup Ali. Sebagaimana pula jalan yang telah dilalui Rasulullah. Jika mengigilnya tubuh Ali bisa membuat orang yang melihatnya menangis, bekas anyaman tikar pada pipi Rasulullah telah membuat Umar bin Khatab menangis. Demikianlah jalan hidup para pemimpin muslim yang zuhud; dunia dihadapkan kepada mereka, tetapi mereka memilih hidup sederhana dan penuh ‘derita’ demi kebaikan umatnya dan kebaikannya kelak di hadapan Tuhannya. [Tim Redaksi Kisahikmah.com]

Berita sebelumyaKisah Panglima yang Mati Gila Setelah Membunuh Ulama
Berita berikutnyaInilah Profil Wanita yang Membuat Kagum Para Dokter