Kisah Ali bin Abi Thalib Akan Memotong Tangan Putrinya

0
ilustrasi padang pasir © gaptect.com
ilustrasi padang pasir © gaptect.com
ilustrasi padang pasir © gaptect.com

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu merasa ada yang aneh dengan penampilan putrinya. Ada sesuatu yang gemerlap, atau memantulkan cahaya. Ternyata putrinya memakai perhiasan dari batu permata.

Alangkah terkejutnya Ali bin Abi Thalib. Ia tak habis pikir. Bagaimana mungkin dirinya dan keluarganya yang berkomitmen untuk zuhud dan menjaga diri mengikuti sunnah Nabi, putrinya memakai batu permata. Dari mana?

Karena tidak mendapatkan penjelasan, Ali bin Abi Thalib berniat memotong tangan putrinya. Ia tampak sungguh-sungguh akan melakukannya. Untunglah di sana ada Ibnu Abi Rafi’ yang tahu persis bagaimana putri Ali bin Abi Thalib bisa mengenakan perhiasan batu permata.

“Demi Allah, wahai Amirul mukminin, akulah yang memberinya hiasan batu permata itu,” kata Ibnu Rafi’.

Setelah mengetahui asal muasal perhiasan itu, tenanglah Ali bin Abi Thalib.

Demikianlah gambaran kehidupan para sahabat dan pemimpin Islam yang lurus. Mereka sangat giat meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah zuhud, mereka pun berupaya untuk zuhud. Rasulullah adil, mereka pun berupaya untuk menegakkan keadilan.

Sifat zuhud membuat Ali bin Abi Thalib, meskipun menjadi pemimpin negara, ia tetap hidup sederhana. Betapa banyak riwayat yang menggambarkan hari-harinya yang sering menahan lapar. Pakaiannya lebih kusut dan kusam dibandingkan dengan rata-rata orang.

Sifat zuhud pula yang membuat Abu Bakar dan Umar, dua pemimpin yang sejatinya kaya raya, tetapi rela berpayah-payah menahan lapar. Pun dengan Utsman. Ia berlaku zuhud di tengah bergelimangnya harta bendanya hasil sukses berniaga.

Sifat zuhud inilah yang membuat Ali bin Abi Thalib takut jika ada sebuah benda, apalagi batu permata, tiba-tiba dimiliki oleh anggota keluarganya tanpa alasan yang jelas. Betapa jauh berbeda dibandingkan dengan penguasa dan pejabat di masa kini yang seringkali hartanya bertambah berlipat-lipat saat menjabat. Yang seringkali tiba-tiba ada pertambahan kekayaan signifikan tanpa mampu mendatangkan penjelasan; dari mana asalnya, atas sebab apa, dan sebagainya.

Sifat adil dan komitmen menegakkan keadilan juga menjadi perangai para sahabat dan khulafaur rasyidin. Mereka memberlakukan hukum secara adil kepada siapapun tanpa melihat status, tanpa memandang bulu, tanpa membedakan strata sosial. Sebagaimana Rasulullah mencontohkan dengan sabdanya “kalau saja Fatimah mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya”, demikian pula para pemimpin ini. Ali bin Abi Thalib hampir saja memotong tangan putrinya, seandainya saja ia tidak mendapatkan penjelasan dari mana batu permata itu berasal. Para pemimpin ini sedang memberikan keteladanan, bahwa tidak ada siapapun yang kebal hukum. Hatta, mereka adalah orang dekat dan keluarga khalifah.

Betapa berbedanya dengan penguasa dan pengadilan pada hari ini. Ketika seorang rakyat jelata mencuri, ia mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya. Tetapi ketika kerabat atau kroni penguasa melakukan korupsi, hukum bisa dipermainkan sehingga mereka lolos dari jerat sanksi.

Tidakkah kita merindukan masa-masa yang penuh keadilan? Tidakkah kita merindukan masa-masa ketika pemimpin zuhud mengayomi seluruh umat? Semoga Allah mengembalikan masa-masa indah seperti itu. Dan kita perlu memulainya dari diri kita, mulai sekarang juga. [Tim Redaksi Kisahikmah.com]

Berita sebelumyaKisah Mush’ab Islamkan Separuh Warga Madinah
Berita berikutnyaKisah Pilu Syahidnya Mush’ab bin Umair