Akankah Kisah Tragis Penista Agama Ini Terulang?

0
1257

Sayang seribu sayang. Laki-laki ini memiliki banyak kriteria untuk mulia di sisi Allah dan masuk surga, tetapi menjadi terhina dan dijebloskan ke dalam neraka.

Bukan hanya hidup di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lelaki ini juga merupakan kerabat dekat manusia paling mulia itu. Ia masih termasuk paman Nabi, salah satu orang kaya dan terhormat di masanya.

Tapi apa gunanya nasab dan status di masyarakat jika iman tak bersemayam di dalam kalbu? Bahkan iman itu ditolak mentah-mentah ketika orang lain yang miskin, tak berketurunan terhormat, dan jauh dari Nabi justru menerimanya.

Lelaki ini monumental, meski dalam keburukan. Namanya benar-benar abadi, meski dalam kesyirikan dan ketidakbaikan. Al-Qur’an yang suci bahkan memasukkan namanya, meski dalam konotasi buruk dan agar tak ditiru bersama nama-nama lain di masa sebelum Nabi Muhammad diutus sebagai Nabi dan Rasul yang paling akhir.

Sebabnya, laki-laki itu menjadi penentang da’wah yang amat nyata. Ia tak rela jika berhala yang jumlahnya ratusan dan bisa menjadi komoditas penarik wisatawan itu diganti dengan Tuhan Semesta Alam, Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

“Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami, wahai Muhammad?”

Itulah teriakan laki-laki ini kepada Muhammad yang mulia. Teriakan yang amat lantang dan dikenang betul dalam ingatan sejarah kaum Muslimin. Lelaki itu benar-benar marah. Ia tak terima.

“Hanya untuk ini Muhammad mengumpulkan orang-orang Arab?”

Waktu itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baru pulang dari misi suci yang diperintahkan Allah Ta’ala. Isra’ Mi’raj. Beliau diperjalankan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu dinaikkan ke Sidratul Muntaha dan Sidratul Mustawa.

Nabi dihibur oleh Allah Ta’ala setelah Khadijah Al-Kubra dan Abu Thalib wafat.

Sepulangnya dari peristiwa agung tersebut, Nabi mengumpulkan masyarakat untuk menyampaikan kewajiban shalat 5 waktu setiap hari. Nabi juga mengajak mereka untuk hanya menyembah Allah Ta’ala dan tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Lelaki itu menolak. Lalu dia berteriak.

“Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?!”

Lalu turunlah ayat di dalam Al-Qur’an yang mencela perbuatannya. Bukannya taubat, lelaki ini kian gila. Ia makin sombong dengan mendatangi Nabi untuk melukainya. Tapi Allah Ta’ala melindungi Nabi hingga si laki-laki tak melihat, padahal Nabi ada di hadapannya.

Terakhir, laki-laki ini meninggal dengan tragis. Kisah hidupnya sebagai penista agama, penista Al-Qur’an, berakhir dengan mengenaskan.

“Abu Lahab meninggal karena penyakit ‘adasah (titik hitam yang muncul di muka, menyebabkan kematian, dan menular). Tak seorang pun dari keluarganya yang berani mendekat. Saat memandikan, mereka hanya melemparkan air dari jauh. Saat menguburkan, mereka melemparinya dengan batu hingga terkubur.” demikian yang ditulis Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya.

Ya Allah, wafatkan kami dalam iman dan Islam, wafatkan kami dalam husnul khatimah. Aamiin. [Kisahikmah]