Khalifah Terbaik yang Lahir dari Mantan Budak

0
2755

Adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib yang digelari sebagai Khulafa ar-Rasyidin. Ialah empat pemimpin terbaik kaum Muslimin yang diakui keshalihan pribadi dan keadilannya saat memimpin.

Sepeninggal keempatnya, kaum Muslimin menobatkan Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah terbaik, merupakan pemimpin dari Bani Umayyah. Keadilan tersebut, lalu berlanjut kepada sosok Harun ar-Rasyid yang mendapatkan kehormatan serupa saat memegang tampuk kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah.

Beliau menjadi Khalifah pada usia yang masih sangat muda, 23 tahun. Memiliki tiga saudara, tapi satu saudara perempuannya meninggal dunia saat masih muda. Sedangkan kakaknya yang bernama Musa al-Hadi lebih dahulu memegang amanah sebagai Khalifah Bani Abbasiyyah hingga wafat.

Di antara rahasia kecemerlangannya, beliau merangkul kaum ulama dan cerdik pandai sebagai penasihat. Para ulama inilah yang mengingatkan agar kepemimpinan senantiasa dijalankan dalam rangka menaati Allah Ta’ala dan Rasulullah. Meski kecemerlangan sang khalifah amat monumental, banyak yang tidak mengetahui bahwa beliau terlahir dari seorang ibu yang merupakan mantan budak.

Ialah Jurasyiyah binti ‘Atha. Seorang budak wanita yang dipekerjakan di lingkungan kekhalifahan Bani Abbasiyyah. Di lingkungan kekhalifahan itulah, wanita yang lebih terkenal dengan julukan Khaizuran ini banyak mengetahui seluk beluk kepemimpinan, politik, dan banyak hal tentang pemerintahan.

Lantaran kecerdasan dan semangatnya yang menjulang untuk senantiasa menuntut ilmu, Khaizuran diangkat menjadi penasihat pribadi al-Mahdi, Khalifah Bani Abbasiyyah kala itu. Kedekatan dua orang ini, sudah pasti menjadi perbincangan di kalangan pemerintahan. Banyak yang mendukung, tapi tidak sedikit yang menolak. Masalah semakin rumit tatkala para istri al-Mahdi merasa cemburu kepada Khaizuran.

Karena itu pula, setelah memikirkan baik dan buruknya, al-Mahdi menikahi Khaizuran. Khalifah rendah hati itu menikahi mantan budaknya. Dari pernikahan barakah tersebut, lahirlah Musa al-Mahdi, Harun, dan satu anak perempuan yang meninggal saat masih kecil.

Sebagai wanita yang berwawasan, Khaizuran sangat legowo jika memang ada orang yang lebih pantas untuk memimpin, meski berasal dari luar jalur keluarganya. Dia juga terkenal sebagai sosok yang tabah dalam derita saat mendampingi anak-anaknya menuntut ilmu hingga ke kota Madinah.

Di tangan Harun ar-Rasyid, kaum Muslimin mencapai puncak kejayaan. Sampai-sampai, sukar ditemukan penerima zakat lantaran kesejahteraan para warganya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]