Kezaliman Terhadap Hasan al-Banna

0
ilustrasi @wiyainews

Dakwah tak pernah sepi dari makar dan tipu data. Mengajak manusia kepada Islam adalah pekerjaan terbaik yang dipenuhi ujian. Sebab itu, ada pahala amat besar bagi siapa yang sanggup istiqamah menjadi dai di jalan Allah Ta’ala.

Ujian dakwah bisa berupa kebencian yang ada dalam hati, lalu mewujud dalam ucapan berupa caci maki, celaan, hinaan hingga fitnah. Tak cukup sampai di situ, ujian dakwah bisa berupa perlakuan fisik dengan boikot, disakiti, diusir dan pembunuhan.

Karenanya, banyak yang bersemangat bergabung dengan dakwah, tapi amat sedikit yang istiqamah hingga akhir hayatnya. Mereka yang tak kuat dengan ujian ini, di antara sebab utamanya adalah salahnya niat. Alhasil, mereka segera menyerah, padahal belum lama memulai.

Ada banyak teladan dakwah. Dimulai para Nabi sebelum Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam; yang hanya mendapat 12 pengikut dalam usia dakwah 500 tahun, hingga Nabi yang disembelih oleh kaumnya; berlanjut kepada ujian yang dialami Rasulullah, sahabat dan generasi terbaik setelahnya.

Teladan dalam dakwah itu, menurut Dr Abdullah Azzam, “Darah mereka telah menjadi obor bagi generasi-generasi yang datang sesudah mereka.”

Di antara mereka, lanjut Doktor Ushul Fiqih Universitas al-Azhar ini, adalah Imam Hasan al-Banna yang mendirikan Ikhwanul Muslimin.

Hasan al-Banna yang ditembak oleh rezim zalim Pemerintah Mesir di jalan protokol terbesar kota Kairo, tepatnya di lapangan Ramses.

Setelah ditembak, jasadnya pun dibawa ke rumah sakit. Tuturnya menerangkan, “Nyawanya dihabisi di Kamar Bedah rumah sakit.”

Betapa zalimnya. Bahkan nyawa yang tak kuasa bergerak pun masih disiksa sebab ketakutan yang dahsyat. Pasalnya, Imam Hasan al-Banna adalah sosok yang mampu menggerakkan ribuan anggota jamaahnya untuk menentang kezaliman.

Selepas itu, masyarakat dan anggota Ikhwanul Muslimin dilarang melakukan shalat jenazah untuknya. Hingga, lanjutnya mengisahkan, “Tidak ada yang menyalati jenazahnya selain empat orang.”

Meski demikian, “Darahnya menghidupkan generasi-generasi sesudahnya di bumi ini.”

Tepat. Bahkan Ikhwanul Muslimin berkembang merata hampir di seluruh negara di bumi ini. Pemikiran-pemikiran Imam al-Banna pun dicetak dalam berbagai bahasa dan dikaji hingga kini.

Jika musuh-musuh Islam berhasil membunuh nyawanya, tapi harumnya darah Sang Imam telah bangkitkan banyak kader yang ikhlas dalam memperjuangkan tegak tingginya kalimat Allah di muka bumi.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu. [Pirman]

Berita sebelumyaCara Ampuh Istri Hasan Al Banna Selesaikan Problem Keluarga Akhwat
Berita berikutnyaJadilah Kera yang Hina