Penjelasan tentang Waktu yang Akan Membuat Anda Tercengang

0
sumber ilustrasi: rokhaworld.blogspot.com

Betapa besarnya ujian bagi kita, kaum Muslimin akhir zaman. Kita hidup di tengah kebodohan yang dibungkus dengan kata modern, berkemajuan. Saking banyaknya godaan, kita sering lupa hingga terjerumus dalam berbagai bentuk kesia-siaan yang berujung pada dosa, maksiat, dan kehinaan.

Salah satu bentuknya, kita dibuat abai terhadap waktu dengan menyia-nyiakannya. Padahal, waktu adalah modal yang amat berharga dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan berbagai usaha untuk menebarkan manfaat kepada seluruh umat manusia.

Mari sejenak meluangkan waktu untuk menyimak nasihat agung ini. Terkait waktu dan urgensinya. Nasihat ini disampaikan oleh salah satu imam kebanggaan kaum Muslimin, Imam Ibnul Jauzi yang merupakan murid terbaik Imam Ibnu Aqil Rahimahumallahu Ta’ala.

Bacalah dengan hati dan perlahan. Agar khasiatnya merasuk ke dalam hati dan pikiran Anda.

“Setiap orang harus mengetahui betapa mulia dan berharga waktunya, sehingga dia tidak menyia-nyiakannya sedetik pun dengan aktivitas yang tidak bernilai ibadah, dan agar dia memprioritaskan ucapan serta perbuatan yang lebih utama daripada yang kurang utama, juga supaya niatnya untuk berbuat baik tidak pernah kendur, meskipun tubuhnya tidak mampu melakukannya.

Sebab, disebutkan dalam sebuah hadits, ‘Niat orang mukmin lebih baik dari perbuatannya.’”

Berapa banyak waktu yang kita lalui dan berujung pada kesia-siaan? Sepanjang siang sibuk dengan urusan diri dan dunia, asyik dengan berselancar mengikuti berita yang beredar, tanpa sedikit pun nilai ibadah di dalamnya. Tidak ada aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, kecuali hanya secuil.

Malamnya sibuk dengan membaca buku tak berguna, menonton siaran televisi mengumbar aurat, asyik di depan layar demi klub sepak bola kesukaan, atau duduk-duduk tanpa makna di beranda rumah sembari memegang ponsel dengan aktivitas yang tak jelas.

Padahal, dahulu, ada seorang laki-laki mendatangi Imam Amir bin Abdu Qais Rahimahullahu Ta’ala. Kepada tabi’in yang ahli ibadah dan ahli zuhud ini, sang laki-laki berkata, “Berbicaralah kepadaku.”

Sang Imam menukasi, “Baik. Tapi, tahanlah matahari.”

Kini, banyak orang yang berharap agar mentari tetap diperaduannya agar obrolan ghibah semakin sedap nan panjang, agar perdebatan yang dihelat kian menular ke berbagai tema kehidupan lainnya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaSeharusnya Kaum Muslimin Merasa Amat Malu
Berita berikutnyaHadits Shahih yang Akan Membuat Anda Rajin Dzikir