Tolak Emas dari Jibril, Alasan Rasulullah Ini Sangat Mengagumkan

0
6712
sumber gambar: artikel.masjidku.id

Sekelompok orang kafir dari suku Quraisy mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam riwayat dari sahabat mulia Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan secara shahih oleh Imam Ath-Thabrani Rahimahullahu Ta’ala ini, kafir Quraisy datang untuk menantang Nabi yang mulia.

“Mintalah kepada Tuhanmu, hai Muhammad, agar bukit Shafa ini dijadikan emas bagi kami. Jika hal itu berhasil kau lakukan, kami akan beriman kepadamu.” tantang Kafir Quraisy, pongah.

Lantaran harapan yang besar agar orang-orang Quraisy beriman, Nabi benar-benar menyampaikan doa seperti permintaan mereka. Tak butuh waktu yang lama, Malaikat Jibril ‘Alaihis salam segera hadir untuk menyampaikan salam dari Allah Ta’ala dan janji keterkabulan dari-Nya.

“Jika engkau mau,” kata Jibril menyampaikan kalimat dari Tuhan Semesta Alam, “maka Aku jadikan emas sebesar bukit Shafa itu bagi mereka. Namun, jika ada di antara mereka yang (tetap) kafir (setelah tercipta emas sebesar Shafa), Aku akan mengazab mereka dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada umat-umat terdahulu.”

Alangkah menggiurkannya tawaran Allah Ta’ala yang disampaikan melalui Malaikat Jibril ‘Alaihis salam ini. Bukankah selama ini kafir Qurisy terbukti bertindak jahat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya?

Bukankah tawaran ini merupakan wahana untuk ‘membalas dendam’?

Tetapi, Nabi bukan manusia biasa. Beliau justru khawatir mendengar tawaran menggirukan tersebut. Hingga, Allah Ta’ala menyampaikan tawaran kedua, dan inilah yang dipilih oleh Rasulullah yang mulia akhlaknya.

“Dan jika engkau mau, Aku akan bukakan pintu taubat dan rahmat untuk mereka.” pungkas Jibril menyampaikan tawaran dari Allah Ta’ala kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Inilah bukti kemuliaan akhlak Rasulullah. Beliau tak berpikir lama. Beliau langsung menerima tawaran kedua dengan keyakinan dan rasa kasih sayang yang mendalam kepada umat-umatnya, meski mereka mendurhakai dan mendustakan ajarannya.

“Aku memilih pintu taubat dan rahmat saja,” tegas Nabi, teduh.

Beginilah makna da’wah yang sebenar-benarnya. Para da’i adalah motor kebaikan yang senantiasa menebarkan inspirasi. Da’i tak sibuk menyalahkan dan memvonis umat. Da’i enggan menghabiskan waktunya untuk melaknat. Da’i adalah mereka yang menundukkan hati dan menengadahkan tangan, meminta hidayah kepada Allah Ta’ala untuk diberikan kepada sebanyak mungkin manusia di muka bumi ini. [Kisahikmah]

 

SHARE
Previous articleKeajaiban Allah untuk Pasangan yang Menikah Sebelum Mapan
Next articleKisah Keajaiban Sholat Hajat; Sembuh Seketika dari Buta