Ketika Umar bin Khaththab Merendahkan Diri di Hadapan Rakyatnya

0
10542

di atas mimbarKehidupan para sahabat yang mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah Saw adalah teladan yang tiada habisnya untuk dipelajari. Selalu ada hal-hal baru yang bisa diambil tatkala kita menyelaminya dari banyak sumber yang terjaga kemurniannya.

Dalam banyak kejadian, para sahabat Rasulullah Saw ini menampakkan amalnya dengan tidak sedikit pun terdapat kesombongan dalam diri. Utamanya tatkala mereka ditanya oleh Nabi tentang amal apa yang telah mereka kerjakan. Pada kesempatan yang lain, mereka benar-benar menyembunyikan apa yang dilakukan karena mengetahui keutamaan amal yang tersembunyi.

Terkadang mereka sengaja menceritakan salah satu kebiasaan masa lalunya, meski hal itu terkesan mengungkit aib diri. Di antara tujuan mereka adalah supaya tidak diagungkan sebab menyadari bahwa dirinya memang hanya manusia biasa. Betapa mulianya sikap mereka dalam menjaga diri.

Dr Abdullah Azzam dalam “Tarbiyah Jihadiyah” mengisahkan salah satu episode tentang hal ini. Beliau menceritakan salah satu kejadian membuka masa lalu yang dilakukan oleh khalifah kedua kaum muslimin.

Saat itu, Umar bin Khaththab mengumpulkan kaum muslimin di luar waktu shalat. Setelah banyak orang yang terkumpul, beliau berkata, “Wahai manusia, beberapa tahun yang lalu saya menggembalakan kambing orang di Kota Makkah untuk mendapatkan upah beberapa Kirat (4/6 Dinar).”

Hanya mengatakan kalimat tersebut, Umar bin Khaththab langsung turun dari mimbar tanpa mengatakan sesuatu yang lain. Melihat kejadian ini, Abdurrahman bin ‘Auf bertanya kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau berdiri hanya untuk merendahkan dirimu sendiri?”

Dengan santai, Umar bin Khaththab menukasi singkat, “Memang itu yang saya maksud.”

Begitlah Umar. Beliau hendak menegaskan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak layak untuk dikultuskan atau dipuja-puji. Beliau dalam banyak hal sama seperti manusia biasa. Ketika banyak kelebihan dan akhlak mulianya yang diteladani umat, hal itu sama sekali di luar kehendak hatinya. Beliau melakukan kebaikan semata-mata untuk Allah Ta’ala dan meneladani Rasulullah Saw.

Kisah ini, sejatinya adalah tamparan bagi sebagian kita yang pernah merasa mulia dan enggan mengakui pekerjaan atau kehidupan masa lalu, kemudian mencari sedemikian banyak dalih untuk menutupinya. Padahal, yang memuliakan atau menghinakan seseorang adalah Allah Ta’ala, sesuai dengan kehendak-Nya.

Satu hal yang patut diingat pula, menyembunyikan aib adalah keutamaan, asal niatnya tidak untuk dianggap orang suci. [Pirman]

SHARE
Previous articleTeks Pidato saat Rasulullah Meminang Khadijah (Bagian 2)
Next articleKalimat yang Menjadi Simpanan di Surga