Ketika Surat Ini Turun, 70.000 Malaikat Mengelilingi sambil Bertasbih

3

Surat ini masuk dalam jajaran surat panjang bersama surat al-Baqarah, Ali ‘Imran, an-Nisa, dan lainnya. Surat ini juga masuk dalam jajaran surat Makkiyyah, yang diturunkan di Makkah al-Mukarramah sebelum peristiwa Hijrah Nabi dan sahabatnya ke Madinah al-Munawwarah.

Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani yang bersambung sanadnya hingga ‘Abdullah bin ‘Abbas, surat ini diturunkan di malam hari secara keseluruhan, dalam satu waktu. Keutamaan lainnya, sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, ketika diturunkan, “70.000 malaikat mengelilingi seraya mengumandangkan tasbih.”

Betapa mulianya surat ini. Ialah surat yang terdiri dari seratus enam puluh lima ayat, terletak di antara surat al-Maidah dan al-A’raf. Persis berada di urutan keenam, surat mulia ini, tak lain adalah al-An’am yang bermakna binatang ternak. Di dalam Khowatir Qur’aniyah, Amru Khalid menyebutkan bahwa surat al-An’am ini diturunkan setelah surat al-Hijr.

Terkait kandungannya, selain soalan sirah, hukum-hukum fiqih terkait sembelihan, dan lain sebagainya, masalah tauhid juga menjadi sentral pembahasan. Masih menurut Amru Khalid, soalan tauhid dan larangan berlaku syirik disebutkan sebanyak 49 kali atau 30% dari keseluruhan 165 ayatnya.

Amru Khalid melanjutkan uraiannya dengan mengatakan, “Betapa agungnya malam kedatangan para malaikat yang mengembangkan sayapnya ketika mengiringi turunnya ayat al-Qur’an yang mulia ini.”

Turunnya malaikat inilah yang menjadi salah satu alasan agar kita senantiasa mendalami kandungan maknanya. “Hal itulah,” lanjut salah satu penulis produktif asal Mesir ini, “yang memberikan naungan halus dan menjadikan kita senantiasa mencari dan mendalami kandungan surat dan tujuannya.”

Di antara bagian penting yang lainnya di dalam surat ini, ialah anjuran agar kita menyelaraskan makna iman yang sebenarnya. Ialah yakin di dalam hati yang diikuti dengan ucapan lisan, lalu diterjemahkan dalam perbuatan saban hari. “Iman,” tutur Amru Khalid, “tidak dapat dipisahkan; harus ditanamkan di dalam sanubari dan direalisasikan dalam amal perbuatan. Secara bersamaan.”

Ya Allah, rahmatilah kami dengan al-Qur’an. Jadikan al-Qur’an sebagai imam, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagi kami. Ya Allah, ingatkan kami kepada al-Qur’an saat terlupa. Dan, ajarkan ilmu kepada kami saat kami bodoh. Ya Allah, jadikanlah al-Qur’an sebagai sahabat kami di dunia ini. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaPikiran Sesat Tentang Rezeki
Berita berikutnyaInilah Orang Pertama yang Diberi Pakaian pada Hari Kiamat

3 KOMENTAR

  1. TAMBAHAN SEBAGAI TOPIK PEMBAHASAN (HOT ISSUE)

    DAN ANCAMAN BAGI ORANG YANG TELAH MENGAKU ISLAM DAN BERIMAN, TETAPI TIDAK MAU BERIMAN SECARA KAFFAH ALIAS BERIMAN SETENGAH-SETENGAH.

    “Diminati oleh pecinta Kebenaran sesuai petunjuk Al-qur’an, Sunnah, Ijma’ Ulama’ dan Qiyas.” (NU GARIS LURUS)

    MAKA OLEH SEBAB ITU;

    KAPAN YA, KITA BISA BERHUKUM DAN BERHAKIM KEPADA HUKUM-HUKUM ALLAH SEBAGAIMANA DIPERINTAHKAN OLEH ALLAH DAN TELAH PULA DICONTOHKAN OLEH RASULULLAH KALAU SAMPAI KIAMAT KITA TETAP BERPANCASILA SERTA BERHUKUM DAN BERHAKIM KEPADA HUKUM-HUKUM THAGHUT?
    ADAKAH ALLAH DAN RASUL-NYA MENGAJARKAN KITA BERAGAMA SEPERTI ITU?

    “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (TQS At-Tahrim 6)

    “Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (TQS An-Nisa 56)

    “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (TQS At-Tahrim 8)

    “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (TQS Al-Isra 58)

    “Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (TQS Al-Kahf 57)

    Berdinnul Islam secara kaffah dengan mematuhi segala perintah adalah Perintah Allah Swt yang wajib dipatuhi oleh seluruh umat Islam yang beriman, sebagaimana realisasinya yang benar telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah Saw pada masanya.

    “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (berdinul islamlah kamu secara kaffah), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS. Al-Baqarah 208-209)

    Rasulullah Saw berpribadi, Rasulullah Saw berkeluarga, Rasulullah Saw bermasyarakat, Rasulullah Saw berbangsa, dan Rasulullah Saw bernegara. Bahkan, Beliau adalah kepala negaranya. Semua aspek hidup dan kehidupan Beliau berserta umat Islam yang beriman, begitu juga yang belum beriman yang berada di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah pada saat itu, ditata dan diatur berazastunggalkan Dinnul Islam seutuhnya atau yang lazim disebut dengan “secara kaffah”.

    Rasulullah Saw tidak pernah mengajak bangsa Arab, baik yang kafir maupun yang beriman, dengan seruan Beliau yang seperti ini, misalnya: “Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Demi persatuan dan kesatuan bangsa Arab, marilah sama-sama kita rekayasa suatu ideologi yang baru, selain Dinul Islam, kemudian kita lengkapi ideologi tersebut dengan hukum-hukum dan undang-undang serta peraturan-peraturan yang kita butuhkan. Kemudian, kita jadikan dan kita pergunakan ideologi kita tersebut berserta hukum-hukumnya sebagai satu-satunya azas pedoman hidup dan kehidupan kita berbangsa dan bernegara, baik bagi yang beriman maupun yang kafir, agar kita semua dapat selamat dan sejahtera di dunia dan akhirat”.

    Pernahkah Rasulullah Saw mencontohkan ber-Dinul Islam seperti misal ajakan Beliau yang tersebut di atas?

    Bukankah misal ajakan Rasulullah Saw itu seperti kita beragama, berbangsa dan bernegara di Indonesia?

    Kalaulah kita, seluruh bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri kita islam dan beriman, dan kita beriman sesuai dengan Ketetapan Allah Swt dan sesuai pula dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, tentu kita tidak akan pernah berideologi yang lain, selain Dinnul Islam, Pancasila misalnya. Beriman dulu yang benar sesuai dengan Ajaran-Nya, barulah kemudian beramal saleh, yang harus juga sesuai dengan Bimbingan Allah Swt dan contoh serta tauladan yang telah diberikan oleh Rasulullah Saw. Maka barulah hidup dan kehidupan kita bernilai ibadah di sisi-Nya. Sebagaimana KetetapanNya atas penciptaan diri manusia.

    Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku. (Q. Az-Zaariyaat 56)

    Apakah Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam memang tidak berlaku atas umat Islam Indonesia?

    Ataukah kita, Umat Islam Indonesia yang jumlahnya mayoritas di Indonesia ini, telah mendapatkan dispensasi atau keringanan dari Allah Swt untuk tidak berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam tetapi kita masih dianggap beriman oleh Allah Swt di hadapan-Nya?

    Ataukah kita, umat islam Indonesia, yang tidak mau ber-Syariat Islam karena kita merasa berat mematuhinya, walaupun itu untuk kebaikan kita? Dan kalaupun kita mau ber-Syariat Islam, bagaimana mungkin kita dapat melaksanakannya karena kita masih tetap ber-Pancasila? Bukankah Pancasila juga mempunyai hukum-hukumnya sendiri yang harus dipatuhi oleh kita-kita yang ber-Pancasila? Sementara Allah Swt, yang kita imani dengan Dinnul Islam-Nya, juga mewajibkan kita, Umat Islam Indonesia, berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum-Nya atau Syariat Islam. Bahkan, Dia mengkafirkan siapa saja manusianya yang tidak mau, dan juga yang menolak atau tidak setuju atas pelaksanaan Syariat Islam.

    Siapa yang harus kita patuhi? Tuhan kita, Allah Swt, dengan Syariat Islam-Nya, ataukah Pancasila kita Nan Sakti dengan hukum-hukum thaghutnya?

    Bukankah ini artinya kita berdualisme dalam berpedoman, alias beragama “suka-suka”? Kita beragama sesuai dengan selera kita. Mana yang cocok dengan selera kita, kita patuhi. Dan mana yang tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita, kita ingkari. Kita beriman akan sebagian isi Al Qur’an dan kufur akan sebagian yang lainnya. Seperti inikah Rasulullah Saw mengajarkan dan mencontohkan kepada kita ber-Dinnul Islam? Koq kita tidak bermalu mengklaim diri kita sebagai umat Beliau?

    Yuk, mari kita bertaubat nasuha dengan berdinul islam secara kaffah, meninggalkan semua yang bukan Ideologi Allah, agar kita selamat di dunia dan akhirat dan , Insya Allah, akan dipersilahkan oleh Allah Swt memasuki jannah-Nya. Aamiin.

  2. Persoalannya..siapakah yg siap utk didaulat kaum muslimin utk memimpin perjuangan tegaknya khilafah Islamiyah saat ini…?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.