Ketika Kaki Kambing Berbicara kepada Rasulullah

0

Kaki Kambing BicaraMembicarakan kehidupan Rasulullah Saw adalah salah satu cara untuk mengenal dan menjadikannya sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Beliaulah sebaik-baik contoh, dan tak ada saingannya hingga akhir zaman.

Dalam sejarah kehidupan beliau, banyak keajaiban yang Allah Ta’ala hadirkan sebagai salah satu bukti bahwa beliau adalah hamba dan utusan-Nya. Meski bagi sebagian manusia hal itu mustahil, tapi hal itu amatlah mudah bagi Allah Ta’ala, dan orang-orang yang beriman diberi kemudahan pula untuk meyakininya sebagai salah satu tanda kenabian.

Adalah Zainab saudara perempuan Marhab. Marhab adalah orang Yahudi Khaibar yang dibunuh oleh Mahmud bin Salamah. Pada Perang Khaibar, Zainab telah meracuni kaki kambing sebelum dihidangkan untuk Rasulullah Saw.

Qadarullah, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsir “al-Qur’anul ‘Azhim”, “Kaki kambing itu dapat berbicara dan menceritakan kepada Nabi Muhammad Saw bahwa ada racun padanya.”

Karenanya, sebagaimana dikutip dari hadits riwayat Imam al-Bukhari ini, “Maka Nabi Muhammad Saw memanggil wanita Yahudi itu.” Selepas dipanggil dan ditanya, “Wanita itu mengakui perbuatannya.”

Setelah Zainab mengakui perbuatannya, Nabi Saw bertanya, “Apakah yang mendorongmu berbuat demikian?” Zainab menjawab, “Aku ingin menguji,” lanjutnya sebagaimana diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, “Jika engkau seorang Nabi, maka racun itu tidak membahayakan dirimu,” lanjutnya sebagaimana termaktub pula dalam riwayat Imam Abu Dawud, “Dan jika engkau bukan seorang Nabi, kami akan terbebas darimu.”

Karena pengakuannya itu, Nabi Muhammad Saw melepaskannya. Namun, lanjut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, “Tetapi ketika Bisyr bin Barra’ Ra mati karena racun itu (ia takut memakannya bersama Rasulullah saw),” lanjut beliau, “Maka Rasulullah Saw menghukum mati wanita Yahudi itu.”

Di dalam riwayat ini, ada kisah keajaiban mampu berbicaranya sepotong kaki kambing yang telah menjadi hidangan, kebijaksanaan Rasulullah Saw dalam memperlakukan orang yang bersalah, dan keadilan beliau dalam menetapkan hukuman sesuai dengan tingkat kesalahan yang diperbuat.

Dalam riwayat singkat nan padat ini, terdapat banyak hikmah bagi siapa yang mau mengambilnya. Sebab mutiara seindah dan semahal apa pun, tak kan pernah bisa dinilai bagus dan diminati oleh kalangan hewan yang tak berakal.

Namun sebaliknya, dalam kaca mata kaum beriman, setiap kejadian memiliki hikmah. Apalagi dalam riwayat yang disabdakan oleh manusia pilihan yang kebaikannya tak lekang oleh zaman.
Sholluu ‘alan Nabii Muhammad. [Pirman]

Berita sebelumyaNa’udzubillah… Inilah Orang yang Menarik Ususnya Sendiri di Neraka
Berita berikutnyaPeristiwa yang Membuat Abdullah bin Abbas tidak Bisa Tidur Semalaman