Ketika Iman Bicara

0

Iman menjadi satu dari sekian banyak kunci kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ialah kepercayaan yang penuh kepada Allah Ta’ala di dalam hati, diucapkan dengan tulus oleh lisan, dan berbuah dalam amal shalih oleh seluruh anggota badan. Ialah kepercayaan yang murni. Tanpa sedikit pun syirik atau riya’.

Iman juga menjadi kunci atas segala hal yang berkaitan dalam interaksi antara seorang hamba dengan Allah Ta’ala.

Ketika iman bicara, ibadah terasa nikmat dan ringan meski banyak sekali ujian dan godaan yang menerpa.

Saat iman sudah berkata, panas yang terik, perut yang lapar, badan yang lelah, udara yang menyengat, dan seluruh aspek yang berkombinasi untuk tidur atau bersantai tak kuasa menggoyahkan seorang hamba untuk bergegas menuju masjid untuk shalat Dhuhur atau Jum’at berjamaah.

Di sana ada kenikmatan iman. Nikmat berjuang menundukkan nafsu, syahwat, dan egoisme. Kebahagiaan bertemu, mengucap salam, berjabat tangan, dan bertukar senyum kepada sesama Muslim. Kepuasaan batin ketika mendengarkan nasihat-nasihat ruhani dan ayat-ayat penyejuk jiwa yang berasal dari Firman Allah Ta’ala.

Ketika iman bicara, pelukan hangat pasangan hidup, empuknya kasur yang membuat nyaman, gigit dingin yang menusuk kulit dan tulang, serta gulitanya malam tak akan pernah menjadi penghalang bagi seorang hamba untuk beranjak mengambil air wudhu, lalu berlama-lama dalam berdiri, duduk, rukuk, dan sujud kepada Allah Ta’ala.

Semua godaan itu tak mampu menjadi penghalang bagi seorang hamba untuk berlama-lama dalam duduk memuji nama-Nya, melafal ayat-ayat-Nya, dan memuhasabah setiap kesalahan yang pernah terjadi di sepanjang hidupnya.

Hanya betah. Hanya suka. Hanya senang. Hanya bahagia. Ujian dunia yang terkesan berat tak terasa, sebab ada bayangan bahagia yang begitu besar baginya, kelak di akhirat yang abadi.

Namun, tatkala iman tiada, seringan apa pun ibadah akan terasa berat. Semudah apa pun amal akan terkesan sukar. Sedekat apa pun kebaikan akan terasa jauh. Sekecil apa pun amal shalih akan terkesan besar hingga tak mampu dikerjakan.

Maka perjuangan mengadakan iman di dalam hati amatlah berat. Dan lebih berat lagi untuk mempertahankannya hingga akhir kehidupan seorang hamba.

Kabar gembiranya, sukar tidak pernah bermakna tidak mungkin. Jika ada kesungguhan, Allah Ta’ala pasti berikan jalan dan kekuatan.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumya3 Kunci Bahagia Dunia sampai Akhirat
Berita berikutnyaJangan Remehkan Kebaikan Orang Lain!