Teman Kesurupan Dibacakan Ayat Kursi, Hasilnya Mengejutkan

0
kesurupan baca ayat kursi
ilustrasi (dragonimages)

Pagi itu kantor mendadak riuh. Beberapa orang tampak panik. Hingga suara mereka terdengar dari ruang kerjaku.

“Ada apa?”
“Adi kesurupan, Pak.”

Adi sudah dikerumuni sejumlah staf. Beberapa orang memegangi tangan dan kakinya karena tubuhnya bergetar seperti orang kejang. Dari mulutnya keluar kata-kata yang sulit dimengerti.

“Bagaimana ini, Pak?” kata seorang karyawati dengan nada panik. Kantor kami jauh dari pesantren atau rumah ustadz. Meskipun ada kajian bulanan, ustadz yang menjadi muballigh berasal dari daerah yang agak jauh. Butuh satu jam lebih perjalanan untuk sampai ke kantor.

“Baiklah saya coba,” demikian jawabanku karena tidak ada orang lain yang memberi solusi. Tidak ada yang pernah meruqyah.

Kami semua cukup awam dalam permasalahan seperti ini. Dan kesurupan ini merupakan kasus pertama di kantor. Aku sendiri juga tidak banyak hafal doa. Tapi aku hafal ayat kursi dan pernah mendengar keutamaannya.

Bismillah. Kupegang kepala Adi lalu kubacakan ayat kursi. Bacaan ayat kursi kali itu mungkin yang paling khusyu’ sepanjang hidupku. Aku sangat berharap pertolongan Allah agar Dia mengembalikan kesadaran stafku itu.

Usai membaca ayat kursi, kuperhatikan kondisi Adi. Orang-orang juga diam terpaku, mereka harap-harap cemas mengamati Adi. Beberapa detik pertama tidak ada reaksi apa-apa. Tubuhnya masih bergetar. Tapi setelah itu perlahan getarannya berhenti dan ocehannya juga tak terdengar lagi.

Baca juga: Keajaiban Istighfar

“Ada apa ini?” Kami tahu itu suara khas Adi. Asli. Bukan jin.
“Alhamdulillah..” jawab orang-orang serempak.

Tatapan mata Adi pun berubah. Tak lagi nanar. Tapi kini seperti penasaran. Ia melihat ke sekelilingnya dengan tatapan heran.

“Lho, ada apa ya?”
“Kamu tadi kesurupan Di.”
“Hah? Kesurupan?”

Alhamdulillah.. akhirnya Adi sadar. Keriuhan kantor belum sirna begitu saja karena berganti dengan banyaknya pertanyaan kepada Adi. Apa yang ia rasakan, apa yang sebelumnya ia lakukan atau pikirkan, dan sebagainya.

“Bapak bisa meruqyah ya?” tanya salah seorang staf.
“Enggak. Tadi cuma baca ayat kursi karena yang paling aku tahu ya itu.” Alhamdulillah. [Kisahikmah]

Berita sebelumyaSaya Pernah Berzina, Bagaimana Cara Taubatnya?