Kesabaran yang Paling Berat

1
ilustrasi @lintas.me

Seperti keniscayaan ujian dalam kehidupan, maka keniscayaan dari kesabaran adalah pahala agung yang tidak ada batasnya. Siapa bersabar, baginya kebaikan. Siapa mengeja sabar, Allah Ta’ala menyertainya.

Kelak selepas mati, Allah Ta’ala akan masukkan orang-orang yang bersabar dalam taat, sabar untuk tidak melakukan maksiat, dan sabar menerima ketentuan Allah Ta’ala ke dalam surga-Nya.

Maka sabar tidaklah mudah. Bahkan mustahil seseorang bersikap sabar jika tanpa pertolongan Allah Ta’ala.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah menyebutkan dua faktor yang membuat kesabaran menjadi sangat sulit dilakukan. Faktor ini pula yang menjadi alasan sehingga mereka yang bersabar berhak mendapat balasan yang agung dari Allah Ta’ala.

Pertama, besarnya keinginan diri. Kedua, lebarnya peluang untuk melakukannya. Jika kedua hal ini bersatu dalam seseorang, pastilah ia akan mengalami kesukaran yang pelik untuk tetap bersabar.

Persoalan inilah yang dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihis salam saat digoda oleh permaisuri raja. Yusuf muda yang tampan tentu saja memiliki kecenderungan alami berupa ketertarikan kepada lawan jenis.

Begitupun dengan sang permaisuri yang cantik, jelita nan rupawan. Ditambah faktor kekuasaan yang amat menggiurkan, hingga seakan-akan, Yusuf yang tampan itu mendapat jaminan dari sang permaisuri, “Kamu gak usah takut. Aku bisa menyelamatkanmu.”

Namun, Yusuf adalah nabi yang terpilih. Ia lebih memilih Tuhannya daripada menuruti nafsunya. Maka ia menghindar dengan berlari. Ia melakukan apa pun yang bisa dilakukan agar tidak masuk ke dalam jurang nafsu syahwat yang terlaknat.

Ujian kesabaran sejenis dialami pula oleh pemuda yang rindu dengan masjid-masjid Allah di muka bumi. Mereka yang muda, enerjik, dan memiliki banyak sarana, tentu saja sangat mudah jika memilih untuk menghabiskan waktu di tempat perbelanjaan ataupun tempat nongkrong lainnya.

Maka yang mencegah mereka dari kesia-siaan jenis itu adalah rasa dekat dan cintanya kepad Allah Ta’ala dan Sunnah Nabi-Nya. Mereka sadar, dunia hanya terminal. Sedangkan akhirat adalah kehidupan yang abadi.

Jenis lainnya, adalah yang dialami oleh pemberi sedekah untuk menyiarkan apa yang disedekahkannya. Bahkan al-Qur’an menyebutkan perintah berinfaq secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.

Tapi, mereka merahasiakan amalannya, sebab berharap niatnya lurus; hanya karena Allah Ta’ala dan menghindari fitnah bernama riya’ maupun sum’ah.

Oleh karena sulitnya jenis kesabaran ini, mari panjatkan pinta, “Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bersabar.” Aamiin. [Pirman]

Berita sebelumyaBaca Doa Ini, Allah akan Menjawab “Ya”
Berita berikutnyaHanya Inilah Infaq yang Diterima

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.