Kepala Negara Ini Menggaji Pegawai Lebih Besar Darinya

0
ilustrasi © nafedz.com
ilustrasi © nafedz.com
ilustrasi © nafedz.com

“Wahai amirul mukminin, bolehkah aku bertanya kepadamu?” kata Ibnu Abi Zakariya. Seulas senyum menyambutnya, seraya memberikan jawaban dengan ramah. “Silahkan, katakanlah.”

“Aku diberitahu bahwa engkau menggaji setiap bawahanmu sebesar 300 dinar. Apakah hal itu benar?”
“Iya, engkau benar”
“Mengapa sebanyak itu?” lanjut Ibnu Abi Zakariya penasaran.
“Aku ingin mencukupi kebutuhan mereka, supaya mereka tidak mengkhianati negara”
“Tapi mengapa engkau tidak mau diberi gaji besar, padahal engkau lebih berhak mendapatkan gaji yang lebih besar dari mereka?”

Yang ditanya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengeluarkan seekor keledai. Setelah itu, barulah ia mengatakan, “Wahai Ibnu Abi Zakariya, keledai ini dulunya diambil dari harta fai’ (harta yang ditinggalkan pasukan musuh yang kalah sebelum perang). Tetapi setelah hari ini aku tidak akan pernah menggunakannya.”

Ibnu Abi Zakariya dan orang-orang cerdas tahu betul arti jawaban ini. Bahwa khalifah itu, yang tidak lain adalah Umar bin Abdul Aziz, sangatlah zuhud. Zuhud membuat dirinya berhati-hati dengan harta apapun. Zuhud membuatnya hidup sederhana. Zuhud membuatnya tak mau menerima pemberian besar dari negara. Zuhud membuatnya menjauhi fasilitas mewah yang sebenarnya adalah haknya sebagai kepala negara.

Pada kesempatan lain, Umar bin Abdul Aziz ditanya oleh seseorang. “Wahai amirul mukminin, sebenarnya engkau bisa mengambil uang di Baitul Mal dua dirham sehari, sebagaimana dulu dilakukan Umar bin Khatab. Mengapa engkau tidak melakukannya?

Dengan senyum tawadhu’, didasari pemahaman bahwa dirinya tak lebih mulia dari kakeknya itu, Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Wajar jika Umar bin Khatab mau menerimanya. Sebab setelah menjadi khalifah, beliau tak punya apa-apa. Tetapi aku, hartaku cukup untuk memenuhi kebutuhanku.”

Masya Allah… inilah jawaban Umar bin Abdul Aziz, yang digelari khulafaur rasyidin kelima. Karena hartanya masih cukup, ia tak mau mengambil jatah dari baitul mal. Sungguh sangat jauh berbeda dari perilaku banyak pejabat dan penguasa di era sekarang. Harta mereka berlimpah, masih saja meminta banyak fasilitas. Harta mereka bukan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, bahkan harta mereka cukup untuk menghidupi tujuh turunannya. Tetapi, mereka tetap merasa kurang, kurang dan kurang. Mereka merasa perlu menumpuk, menumpuk, menumpuk. Lebih parah lagi, mereka bukan hanya menumpuk harta dari sumber yang halal. Bahkan mereka mengais dari sumber-sumber yang tak halal. Seperti meminum air laut, banyaknya harta yang mereka peroleh hanya membuat mereka haus. Maka mereka terus mengambil dan menumpuk harta yang bukan haknya.

Zuhudnya Umar bin Abdul Aziz membuat dirinya disukai oleh bawahannya. Maka mereka bekerja dengan nyaman lalu bersama-sama bekerja memajukan kekhilafahan Islam. Dan jadilah dua setengah tahun pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sanggup mengubah kondisi masyarakat. Lebih sejahtera, lebih berwibawa. Saat itulah jumlah muzakki meningkat pesat, dan negara kesulitan menemukan orang yang mau menerima zakat. Hal sebaliknya akan terjadi manakala pemimpin rakus dan korup. Bawahannya hidup menderita, rakyatnya hidup sengsara, jauh dari kata sejahtera.

Ya Allah… hadirkanlah untuk umatMu ini, pemimpin yang zuhud seperti Umar bin Abdul Aziz. Pemimpin yang membawa kami menjadi hambaMu yang bertaqwa, pemimpin yang mampu mengajak kami hidup sejahtera di bawah naungan ridhaMu semata. Pemimpin yang mampu mewarnai kehidupan kami menjadi penuh syukur, menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur. [Muchlisin BK/kisahikmah.com]

Berita sebelumyaUlama yang Diarak dan Dilempari dengan Sampah oleh Orang-orang Bodoh
Berita berikutnyaPerlakuan Rasulullah Saw kepada Anak-anak ketika Shalat
CEO BedaMedia Grup, Inspirator di Trustco Gresik, Sekretaris Yayasan (Pendidikan) Al Ummah