Kematian Mengharukan Sang Sufi

0
7248
sumber gambar: www.slideshare.net

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan karunia rahmat kepadanya, Imam al-Harits bin Asad al-Muhasibi. Ialah permata zaman yang menjadi salah satu pelopor ilmu hakikat di kalangan kaum Muslimin. Beliaulah sosok agung yang menulis dua ratusan kitab, menjalani hidup dalam zuhud dan qana’ah, seorang ahli ibadah, ahli ilmu, juga menyerukan kaum Muslimin untuk senantiasa berpegang teguh kepada syariat, thariqah, makrifat, dan hakikat.

Imam al-Harits merupakan guru dari sufi agung Imam al-Junayd al-Baghdadi. Beliaulah sufi yang thariqahnya dirujuk oleh salah satu ormas Islam terbesar negeri ini, Nahdhatul Ulama’.

Mursyid Imam al-Junayd ini merupakan sosok yang terjaga hati dan pikirannya dari segala yang syubhat serta haram. Bahkan ketika ada makanan syubhat, Allah Ta’ala memberikan karunia kepada Imam al-Muhasibi untuk mengenalinya melalui aroma yang membuat muntah.

Imam al-Harits bin Asad juga mengilhami Imam al-Ghazali untuk menulis Ihya’ ‘Ulumuddin yang amat monumental. Beliau yang dekat dengan generasi tabi’in ini merupakan pelopor dalam ilmu pensucian jiwa yang dirumuskan dari al-Qur’an al-Karim, sunnah Nabi, dan atsar para sahabat serta tabi’in.

Imam al-Harits dijaga oleh Allah Ta’ala sejak belia. Beliau dijaga dari yang haram. Bahkan atas ketegasannya menolak yang haram, seorang Muslim penjual kurma menyatakan bertaubat dan bersumpah tidak akan mengulangi kekeliruannya dalam berdagang.

Imam Ja’far yang merupakan keponakan Abu Tsaur merupakan sosok yang berada di dekat Imam al-Harits menjelang wafatnya. Dituturkan oleh Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam syarah Risalah al-Mustarsyidin, Ja’far mendengar Imam al-Muhasibi bertutur, “Jika aku melihat sesuatu yang kusenangi, pasti kalian akan melihatku (meninggal) tersenyum. Dan jika aku tidak melihat (sesuatu yang disenangi), maka kalian akan melihat apa yang terjadi padaku.”

Inilah saat yang paling berat bagi kita, orang-orang awam. Ialah kepergian ulama yang merupakan pelita zaman. Wafatnya ulama bukan hal yang sederhana, karena Allah Ta’ala mencabut ilmu-Nya dari dunia dengan mewafatkan para ulama.

Dan saksikanlah, Ja’far meneruskan kesaksiannya, “Allah Ta’ala menyayangi dan memuliakan kedudukan al-Muhasibi di sisi-Nya dengan cara membuatnya kembali ke haribaan-Nya sambil tersenyum; layaknya orang hilang yang pulang kepada keluarganya atau budak setia yang pulang menemui tuannya.”

Semoga Allah Ta’ala memuliakan Imam al-Muhasibi di sisinya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]