Keadilan Islam

0

keadilan Islam - ilustrasiQuraisy geger. Seorang wanita dari Bani Makhzumi melakukan pencurian. Padahal wanita itu memiliki kedudukan terpandang dan Bani Makhzumi adalah kabilah yang terpandang pula.

“Siapa yang akan mengabarkan berita ini kepada Rasulullah?” para tetua saling bertanya.
“Siapa yang berani menyampaikan hal itu kalau bukan Usamah bin Zaid, anak angkat yang dikasihi Rasulullah,” kata sebagian tetua memberikan mandat kepada Usamah. Berharap jika Usamah yang menyampaikan, akan ada ‘keringanan’ dari Rasulullah.

Tapi, apa jawaban Rasulullah saat Usamah menyampaikan berita itu?
“Apakah kamu hendak memintakan syafaat (pertolongan, agar wanita itu dibebaskan) dari salah satu hukum Allah?” jawab beliau dengan tegas, sembari bangkit dari tempat duduknya, “Sungguh bangsa-bangsa sebelum kalian telah binasa karena ketika ada orang terpandang di kalangan mereka melakukan pencurian, mereka tidak menghukumnya. Namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat jelata), maka mereka menjatuhkan hukuman atasnya. Demi Allah, jika saja Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.”

Demikianlah ketegasan Rasulullah. Demikianlah keadilan Islam. Islam tidak membedakan orang kaya dan orang miskin di hadapan hukum. Islam tidak memandang status sosial seseorang di hadapan hukum. Islam tidak mengistimewakan seseorang yang terpandang di hadapan hukum. Semua diperlakukan setara. Semua mendapatkan perlakuan hukum yang sama.

Keadilan inilah yang membuat orang-orang miskin pada masa awal dakwah Islam (fase Makkiyah) berbondong-berbondong masuk Islam. Sebab keadilan sejalan dengan fitrah mereka. Apa yang mereka tunggu-tunggu dan mereka harapkan, telah ada pada Islam. Itulah saat-saat mereka memahami bahwa orang miskin dan bangsawan memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah, di hadapan Islam. Maka Yasir, Sumayyah, dan Sumayyah pun masuk Islam. Itulah saat-saat mereka mengetahui bahwa seorang budak pun bisa memiliki kedudukan yang mulia asalkan ia bertaqwa. Maka Bilal pun masuk Islam.

Keadilan seperti inilah yang membuat orang-orang yang tadinya membenci Islam menjadi mencintainya, setidaknya menjadi segan dan menghormatinya. Seperti seorang Yahudi yang rela menyerahkan tanahnya untuk pembangunan masjid, saat mengetahui Amirul Mukminin Umar bin Khattab menerima pengaduannya dan memperingatkan gubernur agar bertindak adil, tidak memaksa membeli tanah seseorang untuk pembangunan masjid.

Keadilan seperti inilah yang membuat hati-hati manusia berhimpun dalam naungan Islam serta tersentuh dakwahnya. Seperti saat seorang Yahudi yang menemukan baju besi Khalifah Ali bin Abu Thalib. Pengadilan menyamakan keduanya di depan hukum, dan kemudian memutuskan baju besi untuk Yahudi tersebut karena Ali kurang satu orang saksi dan pengadilan menolak putranya sendiri jadi saksi. Akhirnya Yahudi tersebut justru mengembalikan baju besi yang ditemukannya, mengakui bahwa baju besi itu milik Ali, dan ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ali kemudian memberikan baju besi kepada sang mualaf, sebagai hadiah keislamannya.

Keadilan membuat Islam begitu dimuliakan sejarah. Keadilan membuat pemimpin disegani dan dicintai. Keadilan membuat pemerintah dan negara berwibawa. Jika saat ini banyak orang tidak menyukai pemimpin dan tidak menghormati pemerintah, diantaranya karena faktor keadilan yang telah cedera. Saat rakyat mencuri ia dihukum seberat-beratnya. Saat pejabat dan penguasa korupsi, mereka mendapatkan perlakuan istimewa. Kalaupun dihukum, hukumannya diperingan seringan-ringannya. Maka jika engkau adalah seorang pemimpin, berlaku adillah. Tegakkanlah keadilan, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. [Tim Redaksi Kisahikmah.com]

Berita berikutnyaKisah Anak Durhaka yang Langsung Diazab di Dunia