Karena 3 Unsur Ini, Tasawuf Tidak Sesat!

0
sumber gambar: artikel.masjidku.id

Imam Besar al-Azhar Kairo Mesir 1973-1978, Syekh Abdul Halim Mahmud merupakan doktor bidang ilmu tasawuf yang dilahirkan dari keluarga penghafal al-Qur’an. Tentang tasawuf yang sering disalahpahami oleh sebagian kecil kaum Muslimin ini, beliau mengatakan, “Tasawuf adalah jalan yang selamat, akomodatif, dan konstruktif bagi kehidupan dan kemajuan.”

Beliau juga menjelaskan tiga unsur utama sehingga tasawuf merupakan ajaran yang benar, bukan merupakan ajaran yang sesat.

Unsur Ilmu

Di dalam ajaran tasawuf, para penempuh jalan menuju Allah Ta’ala yang sering disebut sufi harus memahami ilmu dengan benar. mereka diajarkan untuk memahami aspek fiqih, tauhid, dan tasawuf itu sendiri. Semuanya harus dilakukan sejalan, tidak boleh berat sebelah dan saling mendiskreditkan.

Meninggalkan fiqih merupakan kesesatan, sebab banyak sekali aturan Islam yang hanya sah dikerjakan sebagaimana kaidah fiqih yang dianjurkan. Sebaliknya, menjalankan ajaran fiqih tanpa aspek penjiwaan membuat seorang hamba kering dari makna kesucian jiwa yang seharusnya mereka dapatkan.

Wudhu, misalnya. Dalam aspek fiqih, seorang Muslim harus melakukannya sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an al-Karim, lalu dilengkapi dengan hal-hal sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Di waktu bersamaan dengan melakukan pembasuhan itu, seorang Muslim juga dianjurkan untuk melakukan perenungan, bahwa wudhu bukan sekadar membasuh anggota badan yang diperintahkan, tapi juga merenungi bahwa ada mekanisme penghapusan dosa di dalamnya.

Ketika membasuh wajah, seorang Muslim harus berharap di dalam hatinya agar Allah Ta’ala menghapus dosa-dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh di sekitar wajah, mulai dari kepala, kening, hidung, mata, bibir, dan lain sebagainya. Ia juga harus berkomitmen agar dosa-dosa tersebut bisa dikurangi untuk selanjutnya dihentikan.

Inilah ilmu yang benar. Ianya bukan sekadar pengetahuan atau teoritis, tapi merupakan sebuah keyakinan yang berujung pada pemahaman dan pengamalan. Tidaklah ilmu berbuah, kecuali setelah mewujud dalam sebuah amal. Dan amal yang dikerjakan tanpa ilmu, amat mungkin menjadi sia-sia. Bahkan, banyak kesesatan yang terjadi, di kalangan sufi maupun kaum Muslimin lain, yang sebab utamanya karena ketiadaan ilmu. Beramal tanpa ilmu adalah pintu kesesatan yang jarang disadari.

Bersambung ke Karena 3 Unsur Ini, Tasawuf Tidak Sesat! (2)

Berita sebelumyaSelain Dimusuhi, Rumah Laki-laki Ini Dikencingi dan Dilempari karena Masuk Islam
Berita berikutnyaKarena 3 Unsur Ini, Tasawuf Tidak Sesat! (2)