Tidak Pernah Dikatakan oleh Rasulullah, Tapi Digemari oleh Umat Akhir Zaman

0
sumber gambar: www.youtube.com

Kita perlu merenung dalam-dalam. Melihat ke dalam hati nurani yang paling suci. Tentang iman yang saban hari kita deklarasikan, tapi kualitasnya tak terlalu membanggakan. Bahkan, banyak di antara pengakuan-pengakuan iman itu yang hanya pengakuan, tanpa bukti yang nyata.

Kita mengaku sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Akan tetapi, banyak di anatara ucapan dan tindakan kita yang menyelesihi beliau yang mulia. Pengakuan sebagai insan yang mengikuti sunnah itu, sering kali hanya dijadikan tameng atau pencitraan semata.

Faktanya, kita amatlah jauh dari makna sunnah itu sendiri. Baik dalam setiap ucapan, perbuatan, atau persetujuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mulia.

Sebagai satu contoh, ada ungkapan, kalimat, pernyataan, ucapan atau produk lisan lainnya yang tak pernah dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Akan tetapi, ungkapan, kalimat, pernyataan, dan ucapan itu amat mudah kita dapati di akhir zaman ini.

Bahkan, disadari atau tidak, bisa jadi kita termasuk satu dari sekian banyak orang yang gemar menyampaikan ucapan jenis ini.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu merupakan sahabat sekaligus pelayan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh ibunya, Anas diserahkan sejak kecil agar mendapatkan berkah dari manusia paling mulia di muka bumi ini.

Sebagaimana layaknya seorang pelayan, Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu amatlah memahami perangai dan kebiasaan sang Baginda Nabi. Suatu ketika sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim Rahimahumullah, Anas menuturkan,

م يكن رسول الله فاحشا ولا لعاقا ولاسباباكان يقول عندالمعتبة: ماله ترب جبينه؟

“Belum pernah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan perkataan keji, melaknat, dan mencaci maki orang lain. Jika pun mencela, beliau hanya berkata, ‘Wahai yang dahinya dipenuhi tanah (karena banyak melakukan sujud).’”

Tidakkah kita menyadari kandungan hadits agung ini? Berapa kalimat yang meluncur dari lisan kita? Dari yang meluncur itu, berapa kadar kalimat keji, ungkapan laknat, dan caci maki yang kita alamatkan kepada saudara-saudara sesama Muslim di sekitar kita?

Tidakkah kita malu melakukan itu? Padahal peci putih, baju taqwa, dan busana keimanan masih melekat di badan, bahkan saat sebagian kita memuntahkan kalimat-kalimat yang tak pernah disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu di hadapan khalayak, saat mereka didaulat sebagai kiyai, ustadz, atau penceramah agama dalam sebuah acara.

Allah… Ampuni semua dosa dan kesalahan kami. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaCara Berbakti kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal
Berita berikutnyaSufi yang Membahayakan Diri Sendiri dan Jamaahnya