Kalimat yang Membuat Nabi Marah

0
5751
ilustrasi @newsone.ws

Lepas Perang Hunain, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan ghanimah (harta rampasan perang) kepada Al-Aqra’ bin Habis dan ‘Uyainah bin Hishn. Keduanya merupakan mualaf yang disegani semasa jahiliyahnya.

Selain kedua orang tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengutamakan pemberian kepada beberapa tokoh Quraisy.

Merespons tindakan Nabi tersebut, seorang laki-laki yang menurut Imam Al-Bukhari adalah Dzul Khuwaishirah berkata dengan lantang, “Demi Allah! Pembagian ini tidak adil dan tidak dimaksudkan untuk mencari ridha Allah Ta’ala!”

Kepada laki-laki tersebut, sahabat mulia ‘Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu ‘anhu menyatakan, “Akan kusampaikan hal itu kepada baginda Rasulullah.”

Sesampainya di hadapan Nabi, ‘Abdullah bin Mas’ud menyampaikan kalimat protes dari Dzul Khuwaisirah. Raut muka Nabi yang biasanya dihiasi senyum indah serta-merta berubah menjadi kesumba merah.

“Siapakah yang akan berbuat adil jika Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dianggap berbuat tidak adil?!” tegas Nabi.

Namun tak berselang lama dari kalimat tersebut, Nabi menyusulnya dengan kalimat pujian kepada Nabi Musa ‘Alaihis salam.

“Semoga Allah Ta’ala merahmati Musa ‘Alaihis salam. Ia telah diberi cobaan lebih dari itu, akan tetapi ia bersabar.”

Mahabenar Allah Ta’ala dengan semua Firman-Nya. Tiada manusia yang paling benar dan jujur tuturnya, selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang terbukti shiddiq.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanyalah manusia biasa. Beliau memiliki sifat-sifat jaiz sebagaimana umumnya manusia. Namun sifat-sifat manusiawi itu tidak membuat beliau rendah di hadapan Allah Ta’ala.

Justru dengan adanya sifat manusiawi ini, umatnya bisa meneladani Nabi dengan cara yang mudah. Sifat manusiawi ini pula yang menjadi alasan terpancingnya emosi beliau ketika mendengar kalimat yang tidak selayaknya diucapkan kepada seorang utusan Allah Ta’ala.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia juga,” tulis Syeikh Musthafa Dib Al-Bugha menerangkan hadits ini dalam Syarh Riyadhus Shalihin Imam An-Nawawi, “terkadang ia meluapkan emosi sebagaimana manusia lainnya, yang bisa marah, gembira, dan lain sebagainya.”

Dalam emosinya, Nabi tetap terkendali. Beliau langsung menyadarinya dalam hitungan detik. Beliau juga marah hanya ketika ada aturan Allah Ta’ala yang dilanggar, bukan marah karena nafsunya. [Kisahikmah]